Jumat, 05 Oktober 2012

Ekologi di Danau Toba Rusak


Ekologi di Danau Toba Rusak
Penulis : Andy Riza Hidayat | Kamis, 31 Juli 2008 | 22:52 WIB

MEDAN, KAMIS - Sepuluh tahun terakhir, kawasan Danau Toba mengalami kerusakan ekologis yang mengkhawatirkan. Kerusakan itu dipicu oleh faktor alam maupun manusia tidak bertanggungjawab. Kerusakan ini nyata-nyata mengancam ikon budaya maupun ekologi Sumatera Utara.
"Perubahan ekologis di kawasan ini cukup serius. Karena itu kami mengajak masyarakat bergabung dalam gerakan menyelamatkan Danau Toba. Kami ingin menunjukkan fakta sesungguhnya yang ada di lapangan," kata pengajar Universitas Sumatera Utara (USU) Irwan syah Harahap, Kamis (31/7) di Medan.
Irwansyah mengatakan dari pantauan komunitas earth society (ES) atau warga bumi-sebuah lembaga bentukan akademisi, budayawan, dan pemuda- telah terjadi kerusakan ekologis di sejumlah titik di Danau Toba. Penilaian ini didasarkan pada pengamatan langsung saat mengelilingi Danau Toba pada 14 sampai 17 Juli lalu.
Berdasarkan catatan ES, kerusakan ekologi itu terjadi di antaranya di Binanga Lom, Kabupaten Toba Samosir dan Silalahi, Kabupaten Dairi. Di dua daerah ini terjadi longsor yang serius. Tebing di dekat danau rontok langsung ke air danau. Bekasnya masih baru terlihat oleh siapapun yang melintasi daerah itu melalu jalur air.
ES mencatat fenomena ekologi yang mengkhawatirkan. Fenomena itu di antaranya munculnya jenis rumput baru yang sebelumnya tidak pernah dijumpai warga di Desa Sialagan, Kabupaten Samosir. Fenomena alam yang juga menjadi catatan ES adalah perkembangbiakan eceng gondok yang pesat. Pada sejumlah titik, salah satunya di Pangururan, Kabupaten Samosir, kumpulan eceng gondok itu membentuk seperti pulau di tengah danau.
Arah Jelas
Pemerhati Budaya Batak Thompson Hs mengatakan perlu sikap tegas pemerintah mengelola Danau Toba. Arah pengelolaan danau ini dia nilai masih belum jelas tujuannya. "Apakah mau dijadikan daerah kunjungan wisata atau daerah budidaya keramba ikan. Belum ada konsep yang jelas," katanya.
Warga Sialen, Kabupaten Toba Samosir, Ompu Monang Napitupulu membenarnya adanya kerusakan ekologis Danau Toba. Dia mengatakan adanya penyusutan air di tempat tinggalnya mencapai sekitar 100 meter.
"Dahulu daratan itu kami pakai untuk sawah. Sekarang tanahnya tidak ada air, menjadi tanah biasa," kata pria yang juga Ketua Partungkoan Batak Toba (Parbato).

Menurut dia, kerusakan ekologis itu terjadi lantaran adanya pembiaran perusakan hutan di kawasan tempat tinggalnya. Salah satu pembiaran itu antara lain penebangan kayu yang terjadi di sumber air Danau Toba. Kejadian ini terus berlangsung selama sepuluh tahun terakhir. Dia meminta agar perusakan hutan di sekitar danau ditindak secara hukum. 

Kamis, 04 Oktober 2012

KKP Sediakan Rp24 M untuk Perikanan Riau

BERITA

KKP Sediakan Rp24 M untuk Perikanan Riau
2012-08-03

PEKANBARU (RP)- Pemerintah pusat melalui Kementerian Perikanan RI, tahun 2012 ini menganggarkan dana sebesar Rp24 milyar untuk Pengembangan Usaha Mina Perikanan (PUMP) untuk Provinsi Riau.

Dana ini diperuntukkan untuk 295 kelompok petani ikan di Riau. Baik bidang Budidaya Perikanan maupun bidang tangkap.

Ini dikatakan Kepala Dinas Perikanan dan Kelautan Provinsi Riau, Prof Dr Ir Irwan Efendi MSc, kemarin di Pekanbaru.

Dikatakannya, jumlah tersebut terdiri dari 156 kelompok petani perikanan budidaya untuk 11 kabupaten/kota selain Kota Dumai, dengan total anggaran yang disalurkan mencapai Rp10.140.000.000.

Untuk program bantuan PUMP budidaya, masing-masing kelompok mendapatkan bantuan Rp65 juta. Sementara untuk kegiatan PUMP bidang tangkap, sebanyak 139 kelompok petani ikan dengan total dana yang disalurkan sebesar Rp13,9 miliar.

Kegiatan ini untuk enam kabupaten, masing-masing Kabupaten Kepulauan Meranti, Rohil, Inhil, Bengkalis, Pelalawan, dan Dumai.

Masing-masing kelompok petani ikan mendapatkan anggaran sebesar Rp100 juta. Mereka yang mendapatkan bantuan dana PUMP ini adalah petani ikan yang memenuhi persyaratan.

Misalnya, warga tempatan, memiliki KTP asli, tidak sebagai PNS, memiliki lahan yang kosong atau sedang dikelola dalam pengembangan budidaya perikanan.

Bantuan tersebut disalurkan bukan berbentuk bantuan uang tunai, melainkan berbentuk bantuan pakan ikan, benih ikan, operasional dan pemeliharaan serta rehabilitasi kolam yang mengalami kerusakan.

Dengan adanya bantuan ini, petani diharapkan bisa memanfatkannya untuk pengembangan usaha perikanannya.

Namun yang lebih penting, bantuan ini bertujuan untuk merangsang pemerintah daerah kabupaten/kota masing-masing untuk memberikan dukungan dan perhatian pada petani ikan dalam usaha perikanannya.

Usaha perikanan memiliki nilai ekonomis yang sangat tinggi untuk membantu meningkatkan ekonomi masyarakat.

Selain itu, usaha budidaya perikanan bisa menyerap tenaga kerja yang cukup banyak. Tidak saja dalam budidaya perikanan, tapi juga dalam pengolahan hasil perikanan maupun pemasaran hasil-hasil perikanan.

Upaya-upaya untuk mendorong petani terus dilakukan. Termasuk pemberian benih ikan gratis pada petani pemula dan petani yang sudah memulai usaha perikanannya.

Dengan keterlibatan pemerintah provinsi dan kabupaten/kota, Irwan Efendi yakin sektor perikanan Riau nanti bisa menjadi sektor yang primadona.(dac)

[Sumber : http://www.riaupos.co]

Selasa, 02 Oktober 2012

KANDUNGAN GIZI DAN MANFAAT RUMPUT LAUT.

 Postingan ini adalah merupakan lanjutan dari Pengenalan Rumput laut, jadi setelah kita mengenal tentang Rumput laut kita akan membahas tentang kandungan yang ada pada Rumput laut.

A. Kandungan Kimia Rumput Laut       
Kandungan rumput laut umumnya adalah mineral esensial (besi, iodin, aluminum, mangan, calsium, nitrogen dapat larut, phosphor, sulfur, khlor. silicon, rubidium, strontium, barium, titanium, cobalt, boron, copper, kalium, dan unsur-unsur lainnya), asam nukleat, asam amino, protein, mineral, trace elements, tepung, gula dan vitamin A, D, C, D E, dan K. 


Kandungan kimia penting lain adalah karbohidrat yang berupa polisakarida seperti agar – agar. Karagenan dan alginat ( Atmadja,1999). Rumput laut yang banyak dimanfaatkan adalah dari jenis ganggang merah karena mengandung selain agar – agar. Karagenan dan alginat , porpiran dan furcelaran. Jenis ganggang coklatpun juga sangat potensial  seperti Sargassum dan Turbinaria karena mengandung pigmen klorofil  a dan c, beta  carotene,  filakoid ,violasantin dan fukosantin, pirenoid dan cadangam makanan berupa laminarin, dinding sel yang terdapat pada selulosa dan algin. Berdasarkan strukturnya karagenan dibagi menjadi tiga jenis yaitu kappa,iota dan lambda karagenan. Karagenan pada ganggang merah merupakan senyawa polisakarida yang tersusun dari D –galaktosa dan L.-galaktosa 3,6 anhidrogalaktosa yang dihubungkan yang dihubungkan  oleh ikatan 1-4 glikosilik.          

Kandungan rumput laut umumnya adalah mineral esensial (besi, iodin, aluminum, mangan, calsium, nitrogen dapat larut, phosphor, sulfur, chlor. silicon, rubidium, strontium, barium, titanium, cobalt, boron, copper, kalium, dan unsur-unsur lainnya), asam nukleat, asam amino, protein, mineral, trace elements, tepung, gula dan vitamin A, D, C, D E, dan K. .Tabel komposisi kimiawi  dari beberapa jenis rumput lau dapat dilihat pada Tabel 1. 

Tabel 1. Komposisi Kimiawi Beberapa Jenis Rumput Laut

Sumber : Yunizal,2004

Penggunaan  jenis rumput laut E.cottonii   tidak hanya terbatas sebagai makanan utama pada industri karagenan, tetapi juga dapat digunakan sebagai bahan utama dalam pembuatan makanan, akan tetapi juga sumber gizi yang baik selain itu juga merupakan sumber mineral yang baik.       

Tabel  2 Kandungan mineral  rumput Laut E.cottonii sp.

 Sumber : Istini et al 1989

B. Pemanfaatan Produk Rumput Laut
Hasil olahan di Indonesia  di antaranya berupa  agar, karagenan dan alginat. Yang merupakan hidrokoloid. Dengan beberapa sifat yang dimiliki rumput laut, maka olahan tersebut dapat berfungsi sebagai gelling agent,thinkener, viscosi fiying agent, atau sebagai emulsifying agent. Manfaat rumput laut dapat dilihat pada Tabel 3.

Tabel 3. Manfaat Agar, Karagenan dan Alginat
C. Standart Rumput Laut kering       
Untuk mendapatkan nilai jual yang tinggi, persyaratan mutu bahan baku  rumput laut kering atau pun hasil produk dasarnya harus memenuhi standar. Rumput kering yang bagus dan memenuhi standar perdagangan adalah rumput laut yang kandungan benda asingnya seperti pasir,atau batu karang tidak lebih dari 5%. Kandungan airnya sekitar 20-22%. Rumput laut

kering jenis Eucheuma, gelidium, glacelaria,dan hypnea yang akan diekpor harus memenuhi standar mutu sebagai berikut.

Tabel  4 Standar Mutu beberapa jenis rumput laut kering
 
*) Benda Asing,garam,pasir,karang,kayu.dan jenis lain
 **) Benda asing Garam,Pasir,Karang dan Kayu       

2. Standart Agar – agar        
Agar agar bubuk merupakan komoditas yang diekspor  dan beberapa pengusaha sudah mengusahakan  dalam skala industri.Di Indonesia agar agar sudah mulai di produksi pada tahun 1930, dan sekarang beberapa industri pengasil  agar – agar sudah banyak memproduksi, Untuk mengekspor bubuk agar – agar mutu produk harus memenuhi persyaratan untuk bubuk agar agar di Indonesia umumnya menggunakan jenis glacelaria. 

Pada Tabel  5 dapat dilihat standar mutu agar agar. Tabel. 5 Standar Mutu Agar agar
 
Sumber Poncomulyo dkk,2006

Standar Industri Indonesia (SII) untuk karaginan belum dirumuskan. Standar mutu yang ditetapkan FCC (Food Chemical Codex), FDA, dan FAO (Food and Agricultural Organization) meliputi spesifikasi

kadar logam berat Pb, sulfat, air, abu, abu tak larut asam, bahan tak larut asam, dan viskositas larutan. Standar mutu internasional berdasarkan ISO 9002 untuk produk karaginan adalah sebagai berikut 

Tabel  6 Standar Mutu  Karagenan
 Natrium alginat sebagai food grade menurut Cottrell and Kovacs (1977) harus bebas dari selulose dan warnanya sudah dilunturkan, sehingga menjadi putih. Sedangkan untuk yang mutu industrial untuk warna masih diperbolehkan adanya beberapa bagian dari selulose dengan warna coklat sampai mengarah ke putih dengan kisaran pH  3.5 – 10, viskositas  larutan 1% alginat, kadar air  5-20% dengan ukuran partikel 10-200  standar mesh ( Winarno,1990).

Tabel   7. Spesifikasi mutu asam alginat, Natrium alginat dan propilen glikol alginat



 Jadi telah diketahui bahwa Kandungan kimia rumput laut terdiri dari protein, lemak, air dan mineral. Bahan baku yang dibuat untuk produk dasar seperti agar agar, karagenan dan alginat untuk dapat di ekspor harus memenuhi persyaratan.sesuai dengan persyaratan Codex
bersambung ke:
selanjutnya....anda perlu membaca

1.       Penanganan rumput laut





Sumber Referensi:
Kementerian Kelautan dan Perikanan
Badan Pengembangan sumberdaya Manusia Kelautan dan Perikanan
Pusat Pengembangan Penyuluhan Perikanan
Materi Penyuluhan Perikanan