LAPORAN PRAKTIKUM EKOLOGI PERAIRAN
POLA
LONGITUDINAL SUNGAI
Disusun oleh
:
Nama : Rini
Puji Lestari
NIM :
H1K011001
JURUSAN PERIKANAN DAN KELAUTAN
FAKULTAS SAINS DAN TEKNIK
UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
PURWOKERTO
2012
I.
PENDAHULUAN
1.1.
Latar Belakang
Ekosistem, yaitu unit fungsional
dasar dalam ekologi yang di dalamnya tercakup organisme
dan lingkungannya (lingkungan biotik
dan abiotik) dan di antara keduanya saling
memengaruhi (Odum, 1993). Ekosistem dikatakan sebagai suatu unit fungsional
dasar dalam ekologi karena merupakan satuan terkecil
yang memiliki komponen secara lengkap, memiliki relung ekologisecara lengkap, serta terdapat
proses ekologi secara lengkap, sehingga di dalam
unit ini siklusmateri dan arus energi terjadi sesuai dengan kondisi
ekosistemnya.
Air adalah suatu zat yang mengelilingi organisme yang
hidup diperairan. Air juga merupakan bagian terbesar pembentuk tubuh tumbuhan
dan binatang yang ada disekitar ataupun hidup didalam air. Air juga merupakan medium
tempat terjadinya berbagai reaksi kimia, baik diluar maupun didalam tubuh
organisme hidup (Nybakken, 1992). Sungai sebagai perairan umum yang berlokasi
di darat dan merupakan suatu ekosistem terbuka yang berhubungan erat dengan
sistem-sistem terestrial dan lentik (tenang). Ciri-ciri umum daerah aliran sungai adalah semakin
kehulu daerahnya pada umumnya mempunyai tofograpi
makin bergelombang sampai bergunung-gunung (Odum, 1996).
Sungai merupakan suatu ekosistem yang
bersifat terbuka dan erat hubunganya dengan ekosistem lain disekitarnya. Sungai Serayu, yang terletak diProvinsi Jawa Tengah
bagian selatan dan Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, dengan luas 12.338,4583
km2. Secara administratif, daerah yang berada di aliran
wilayah sungai serayu adalah sebagai berikut: Prov. Jawa Tengah : Cilacap,
Banyumas, Purbalingga, Banjarnegara, Wonosobo, Temanggung, Magelang, Purworejo,
Kebumen. Provinsi DIY : Kodya Yogyakarta,
Sleman, Kulonprogo, Bantul, Gunungkidul. Kondisi topografi secara umum terdiri
dari wilayah pegunungan, perbukitan dan dataran rendah.
Pola longitudinal adalah
pola memanjang dari bagian hulu, tengah dan hilir sungai. Pola ini digunakan di
suatu perairan yang mengalir seperti sungai dan berfungsi untuk mengetahui
perubahan faktor fisika kimia suatu lingkungan perairan dan mengetahui organisme
yang hidup di perairan tersebut. Distribusi longitudinal terjadi dimana
kemiringan tidak jauh berbeda dari hulu ke hilir. Perubahan longitudinal yang
jelas berhubungan dengan perubahan yang sangat terlihat yaitu suhu, kecepatan
arus dan pH (Odum, 1996).
1.2
Tujuan
Tujuan praktikum
ekologi perairan Pola Longitudinal Sungai
adalah sebagai berikut :
1. Mengetahui kandungan
oksigen terlarut, kecepatan arus, konduktivitas, pH, temperatur, BOD,
kejernihan air, substrat dasar.
2. Mengetahui faktor
fisikokimia yang mana yang menunjukkan pola longitudinal.
II.
TINJAUAN
PUSTAKA
2.1.
Sungai
Sungai
Serayu merupakan sungai terbesar yang mengalir di Karesidenan Banyumas. Lahan
di sekitar DAS Serayu banyak dimanfaatkan oleh masyarakat, antara lain sebagai
pemukiman, pertanian, perkebunan, industri dan kegiatan penambangan. Sungai
Serayu juga dimanfaatkan untuk kepentingan sebagai sumber air, yang merupakan
sumber utama bagi kebutuhan air baku untuk konsumsi domestik, irigasi,
rekreasi, pembangkit tenaga listrik, tempat pembuangan limbah baik domestik
maupun industri, transportasi, penggalian tambang golongan C (batu dan pasir)
dan perikanan (keramba) oleh penduduk sekitar (Boy,2008).
2.2.
Parameter
Fisik-Kimia
2.2.1.
DO
Oksigen
terlarut yang terkandung di dalam air, berasal dari udara dan hasil proses
fotosintesis tumbuhan air. Oksigen diperlukan oleh semua mahluk yang hidup di
air seperti ikan, udang, kerang dan hewan lainnya termasuk mikroorganisme
seperti bakteri. Kadar
oksigen yang terlarut bervariasi tergantung pada suhu, salinitas, turbulensi
air, dan tekanan
atmosfer. Peningkatan suhu sebesar 1oC akan meningkatkan ,konsumsi oksigen sekitar 10 Menurut Boyd (1990), jumlah oksigen yang
dibutuhkan oleh organisme akuatik tergantung spesies, ukuran, jumlah pakan yang
dimakan, aktivitas, suhu, dan lain-lain. Konsentrasi oksigen yang rendah dapat
menimbulkan anorexia, stress, dan kematian pada ikan.
Menurut Swingle dalam Boyd (1982), proses reproduksi dan pertumbuhan ikan akan
berjalan dengan baik, bila dalam suatu kolam kandungan oksigen terlarut sama
dengan atau lebih besar dari 5 mg/L. Faktor yang mempengaruhi DO adalah kekeruhan air, suhu
,salinitas dan pergerakan arus(Salmin,2005).
2.2.2. BOD (Biological
Oxigen Demand)
BOD (Biological Oxigen Demand) adalah suatu karakteristik yang menunjukkan jumlah
oksigen terlarut yang diperlukan oleh mikroorganisme (biasanya bakteri)
untuk mengurai atau mendekomposisi bahan organik dalam kondisi aerobik
(Umaly dan Cuvin, 1988; Metcalf & Eddy, 1991). Ditegaskan lagi oleh
Boyd (1990), bahwa bahan organik yang terdekomposisi dalam BOD adalah
bahan organik yang siap terdekomposisi ( readily decomposable organic matter).
Faktor yang mempengaruho
BOD adalah jumlah senyawa organik yang diuraikan, tersedianya mikroorganisme
aerob dan tersedianya jumlah oksigen yang dibutuhkan dalam proses penguraian
tersebut (Barus, 1990 dalam Sembiring,2008).
2.2.3.
Temperatur
Suhu adalah salah satu faktor yang penting dalam suatu
perairan untuk mengukur temperatur lingkkungan tersebut. Suhu merupakan salah
satu factor yang penting dalam suatu perairan karena suhu merupakan faktor
pembatas bagi ekosistem perairan dan akan membatasi kehidupan organisme akuatik
(Oudum, 1971). Menurut Sucipto dan Eko (2005) menyatakan bahwa suhu mematikan
(lethal) hampir untuk semua spesies ikan bekisar 10-11ºC selama beberapa hari.
Menurut Barus (2002), kisaran suhu air yang baik dalam perairan dan kehidupan
ikan yaitu berkisar antara 23-32ºC.
Faktor yang mempegaruhi suhu adalah intensitas cahaya, ketinggian geografis
,kanopii dari pepohonan yang tumbuh di tepi sungai (Barus, 2010).
2.2.4.
Derajat
Keasaman (pH)
Derajat keasaman (pH) berkaitan erat dengan
karbondioksida dan alkalinitas, semakin tinggi pH, semakin tinggi alkalinitas
dan semakin rendah kadar kandungan dioksida bebas (Mackereth et al., 1989). Kondisi perairan yang
bersifat sangat asam maupun sangat basa akan membahayakan kelangsungan hidup
organisme karena akan menyebabkan
terjadinya gangguan metabolisme dan respirasi serta dapat meningkatkan
konsentrasi amonia yang bersifat sangat toksik bagi organisme (Barus, 2002).
2.2.5.
Lebar
sungai
Lebar adalah jarak antara sisi yang kiri dengan sisi yang
kanan. Lebar sungai sangatlah dipengaruhi oleh riparian vegetation yang
menjaga terjadinya pengikisan Konduktivitas air yang
baik bagi kehidupan suatu mahluk hidup di perairan yaitu di bawah 400μs. Konduktivitas perairan yang melebihi atau diatas 400μs mahluk hidup atau organisme yang hidup di perairan akan stress dan akan
mati. Jika di perairan sungai terdapat banyak partikel maka hantaran listrik
tinggi (Ewuise, 1990).
2.2.6 Kedalaman.
Kedalaman adalah jarak antara dasar sampai ke permukaan
sungai. Kedalaman merupakan penyebab terjadinya perbedaan dan keanekaragaman
didalam perairan dasar, tengah dan permukaan. Kedalaman merupakan salah satu faktor yang
menentukan hidrobiota di dalam suatu perairan. Habitat dengan kedalaman berbeda
akan berpengaruh terhadap struktur komunitas organisme yang ada di dalamnya
(Odum, 1971). Kedalaman suatu perairan melebihi dari 3 meter akan mengganggu proses
fotosintesis, karena cahaya matahari tidak dapat menembus kedasar perairan yang
terlalu dalam (Hawkins, 1979).
2.2.7 Kejernihan air
Penetrasi cahaya seringkali dihalangi oleh zat yang
terlarut dalam air, membatasi zona fotosintesa dimana habitat akuatik dibatasi
oleh kedalaman. Kekeruhan apabila disebabkan oleh lumpur dan partikel yang
dapat mengendap pada dasar perairan, hal ini disebabkan oleh organisme, ukuran
kekeruhan merupakan indikasi produktivitas kejernihan dapat diukur dengan alat
yang amat sederhana yang disebut cakram
secchi. Pada daerah sungai
terdapat 2 macam zona aliran air, zona itu adalah zona aliran deras dan zona
air tenang. Zona air deras adalah zona dimana daerah aliran sungai yang dangkal
dan biasanya terletak pada hulu sungai. Arus tersebut berfungsi untuk membuat
dasar sungai bersih dari endapan dan material lainnya. Oleh karena itu daerah
pada hulu sungai memiliki tingkat kecerahan yang tinggi. Sedangkan pada zona
air tenang adalah bagian sungai yang dalam yang kecepatan arusnya telah
berkurang, maka lumpur dan material yang berada dalam air cenderung mengendap
pada dasar perairan, sehingga memiliki tingkat kecerahan yang rendah. Zona ini
biasanya terdapat pada hilir sungai (Odum,1996).
2.2.8 Substrat dasar
Substrat
dasar adalah kondisi dasar dari perairan yang menjadi tempat tinggal bagi
benthos dan menjadi kisaran toleransi bagi beberapa makhluk hidup. Setiap
ekosistem tergantung dan dapat dipengaruhi oleh faktor-faktor tempat, waktu dan
masing-masing membentuk basis-basis perbedaan diantara ekosistem itu sendiri
sebagai pencerminan sifat-sifat yang khas (Odum, 1996). Substrat dasar berupa
batu besar, kerikil biasanya banyak ditemukan didaerah hulu yang ditempati oleh
banyak organisme. Hal ini disebabkan oleh bentuk topografi dari sungai
tersebut, dimana arus deras biasanya membawa endapan-endapan pada dasar sungai.
Sedangkan substrat dasar yang berupa lumpur, tanah liat berpasir biasanya
ditemukan didaerah hilir yang ditempati oleh sedikit organisme (Hawkins, 1979).
2.2.9 Konduktivitas
Konduktivitas adalah
jumlah ion-ion terlarut per volumenya dan mobilitas ion-ion tersebut, satuannya
adalah mS/cm (milli-Siemens per centimeter). Konduktivitas air yang baik bagi kehidupan suatu
makhluk hidup di perairan yaitu di bawah 400μs. Konduktivitas bertambah
dengan jumlah yang sama dengan bertambahnya salinitas sebesar 0,01, temperatur
sebesar 0,01 dan kedalaman sebesar 20 meter. Secara umum, faktor yang paling
dominan dalam perubahan konduktivitas di air adalah temperature (Asdak,2007).
2.2.10. Skor Fisik Habitat
Skor fisik habitat
adalah nilai dari kondisi yang terdapat pada suatu lingkungan habitat sungai
tertentu. Dari nilai fisik tersebut dapat diperoleh bagaimana kondisi pada
lingkungan tersebut, apakah lingkungan tersebut dalam keadaan Sub optimal,
optimal, marginal atau poor (buruk) bagi organisme yang hidup didalamnya maupun
yang ada disekitar sungai tersebut. Untuk dapat mendeskripsikan berapa skor
fisik habitat dari suatu ekosistem dapat menggunakan tabel Barbour dan
Stribling tahun 1991. (Lan et al. 1978).
2.2.11 Kecepatan
Arus
Arus merupakan suatu pergerakan air
yang mengakibatkan perpindahan horizontal dan vertical masa air. Menurut barus
(2001), arus air merupakan faktor yang mempunyai peranan yang sangat penting baik
pada perairan letik maupun pasa perairan lentik. Hal ini berhubungan dengan
penyebarn organisme, gas-gas terlarut dan mineral yang
terdapat di dalam air. Kecepatan aliran air akan bervariasi secara
vertikal. Arus air pada perairan lotik umumnya bersifat tusbulen yaitu arus air yang
bergerak ke segala arah sehingga air akan terdistribusi ke seluruh bagian dari
perairan. Faktor-faktor
yang mempengaruhi kecepatan arus
sungai adalah kemiringan, kesuburan kadar sungai, juga kedalaman dan keleburan
sungai, yang membuat kecepatan arus disepanjang aliran sungai berbeda (ozum
1993 dalam suliati,2006). Pada perairan letik umumnya
kecepatan arus berkisar antara 3 m / detik (Barus,2001).
III.
MATERI
DAN METODE
3.1.Materi
3.1.1. Alat
Alat yang digunakan dalam
praktikum ini adalah botol winkler, pipet tetes, spluit, labu erlenmeyer, gelas ukur, termometer,
kertas pH, tongkat penduga, keping secchii, tali rafia, Konduktivitimeter, dan
tabel Barbour dan Stribling.
3.1.2. Bahan
Bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah larutan
MnSO4, KOH-KI, Larutan H2SO4, Larutan Na2S2O3,
indikator amilum dan sampel air
sungai.
3.2.Metode
Metode
yang digunakan dalam praktikum
ini dilakukan dengan metode pengukuran faktor fisikokimia air dari hulu sampai
dengan hilir sepanjang sungai Serayu. Parameter yang akan di ukur yaitu DO,
BOD, temperatur, pH, lebar sungai, kedalaman, kejernihan air, substrat dasar,
konduktivitas dan salinitas, skor fisik habitat, dan kecepatan arus.
3.2.1. Pengukuran DO (Dissolved
Oxygen)
Sampel air diambil menggunakan
botol wingkler sebanyak 250ml tanpa ada gelembung. Larutan MnSO4, KOH-KI masing-masing 15 tetes, biarkan hingga
terbentuk endapan, tambahkan larutan H2SO4 ke dalam botol
kemudian dihomogenkan. Kemudian di ambil sebanyak 100ml ke labu Erlenmeyer,
kemudian di titrasi denga larutan Na2S2O3
sampai larutan berwarna kuning muda, kemudian tambahkan amilum 3 tetes hingga
berwarna biru. Kemudian di titrasi kembali hingga warna biru hilang.
Rumus perhitungannya :
DO =
Keterangan :
DO =
Oksigen terlarut (mg/l)
p = volume larutan Na2S2O3 (ml)
q = normalitas larutan (n)
8 = bobot setara larutan
3.2.2. Pengukuran BOD (Biological Oxygen Demand)
Pengukuran BOD dilakukan dengan metode Wingkler, yaitu
sampel dimasukkan kedalam dua botol Wingkler volume 250ml sampai penuh. Botol
Wingkler pertama segera diperiksa kandungan oksigennya (DO0 hari),
sedangkan botol Wingkler kedua diinkubasi selama 5 hari pada suhu 200C.
Setelah diinkubasi 5 hari, diperiksa kandungan oksigennya (DO5
hari).
Kandungan BOD dapat dihitung dengan rumus :
Keterangan :
BOD = Kandungan oksigen yang dibutuhkan
mikroorganisme (mg/l)
3.2.3. Pengukuran Temperatur
Pengukuran temperatur
dilakukan dengan cara mencelupkan termometer pada perairan, tunggu sampai
beberapa menit sampai pengukuran pada termometer stabil dan tidak berubah-ubah,
pengukuran ini dilakukan di tiga titik (pinggir, tengah, pinggir), lalu temperatur yang ketiga titik tersebut
dirata-ratakan.
3.2.4. Pengukuran Derajat Keasaman (pH)
Dicelupkan kertas pH ke dalam
air, perubahan warna yang terjadi pada kertas lakmus kemudian disamakan dengan
warna skala pH yang tercantum.
3.2.5. Lebar Sungai
Dalam menentukan lebar dari
sungai yang diamati digunakan estimasi (pendugaan) secara visual.
3.2.6. Pengukuran Kedalaman
Dilakukan pengukuran pada tiap
2 meter lebar sungai dengan tongkat penduga yang telah diberi skala panjang.
3.2.7. Pengukuran Kejernihan Air
Masukkan keping Secchii ke
dalam air. Ukurlah kedalaman sampai batas antara hitam dan putih tak dapat di
bedakan. Jika sampai dasar sungai masih dapat di bedakan, catatlah kedalaman
sampai dasar tersebut.
3.2.8. Pengukuran Substrat Dasar
Substrat di estimasi
menggunakan tabel Barbaur dan stribing, dan dilakukan perhitungan skor fisik
habitat setiap stasiun pengamatan. Diestimasi secara visual persentasi bagian
dasar sungai yang tertutup lumpur, pasir, kerikil, batu.
3.2.9. Pengukuran Konduktivitas
Konduktivitas diukur dengan
menggunakan alat konduktivitimeter dengan cara mencelupkan sensor
konduktivitimeter kedalam air sungai. Kemudian hasil yang diperoleh dicatat.
3.2.10. Pengamatan Skor Fisik Habitat
Substrat di estimasi
menggunakan tabel Barbaor dan stribling, dan dilakukan perhitungan skor fisik habitat
setiap stasiun pengamatan.
Tabel 1. Kriteria penilaian kondisi fisik habitat Barbour
dan Stribling (1991)
|
Habitat Parameter
|
Optimal
|
Suboptimal
|
Marginal
|
Poor
|
|
Substrat dasar
|
Lebih dari 60% dasara perairan terdiri
atas kerikil, batu atau cadas dengan porsi yang kurang lebih sama. SKOR 20
|
30%-60%
darisubstratdasarpenilaianberupabatuanataucadas. Substrat mungkin didominasi oleh salah satu
kelas ukuran tersebut.
SKOR 15
|
10%-30%
merupakan satu materi yang besar tetapi lumpur atau pasir 70-90% mendominasi substrat
dasar.
SKOR 10
|
Substrat
didominasi oleh lumpur dan pasir kerikil dan pasir dan materi yang lebih
besar.
SKOR 5
|
|
Kekomplekan habitat
|
Berbagai macam tipe kayu pohon, cabang,
tumbuhan akuatik terdapat pada segmen sungai membentuk habitat yang bervariasi.
Segmen sungai tertutup kanopi.
SKOR 20
|
Substrat cukup bervariasi. Segmen sungai
cukup terlindungi oleh kanopi.
SKOR 15
|
Habitat didominasi oleh 1 atau 2 macam
komponen substrat, tumbuhan tepi yang menaungi segmen sungai sedikit.
SKOR 10
|
Habitat monoton
pasir dan lumpur menyebabkan habitat tidak bervariasi.
SKOR 5
|
|
Kualitas yang menggenang
|
25% dari bagian yang menggenang sama atau
lebih lebar dari setengah lebar sungai dan kedalamannya >1 m.
SKOR 20
|
<5% bagian yang menggenang
kedalamannya >1 m dan lebih lebih lebar dari ½ lebar sungai. Umumnya
bagian yang dalam ini lebih kecil dari setengah lebar sungai dan kedalamannya
>1m.
SKOR 15
|
Kurang dari 1%
bagian yang menggenang kedalamannya >1m dan lebih dari lebar sungai.
Bagian yang menggenang ini mungkin sangat dalam/dangkal.Habitat tidak
bervariasi.
SKOR 10
|
Bagian yang
menggenang kecil dan dangkal bahkan mungkin tidak terdapat bagian yang
menggenang.
SKOR 5
|
|
Kestabilan tepi sungai
|
Tidak terdapat bukti-bukti bahwa tempat
tersebut pernah terjadi erosi atau berpotensi untuk erosi.
SKOR 20
|
Jarang terjadi bagian tepi yang gugur,
kemungkinan gugur ada tetapi rendah.
SKOR 15
|
Bagian tepi ada
yang mengalami erosi saat banjir.
SKOR 10
|
Bagian tepi
sungai tidak stabil, sering terjadi erosi.
SKOR 5
|
3.2.11
Pengukuran
Kecepatan Arus
Pengukuran kecepatan arus menggunakan metode apung.
Lakukan dengan menggunakan botol air mineral ukuran 600 ml yang terisi air setengah penuh, kemudian ikat botol tersebut dengan tali rafia sepanjang 10 meter. Lemparkan
botol ke sungai. Catat waktu yang dibutuhkan botol tersebut
untuk hanyut sepanjang 10 m, kemudian
menghitung kecepatan arus dengan menggunakan rumus :
Keterangan :
v = Kecepatan arus (m/s)
s = Jarak yang ditempuh (m)
t = waktu (s)
3.3
Waktu
dan Tempat
Praktikum ini dilaksanakan
pada Sabtu, 8 Desember 2012 di sepanjang daerah aliran sungai (DAS)
Serayu dari hulu ke hilir pada lima
stasiun pengamatan yaitu Kejajar,
Garung, Prigi, Mandiraja, dan Kembangan.
IV.
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1. Hasil
Tabel 1. Parameter Fisikokimia
|
Parameter Fisikokimia
|
Stasiun
|
||||
|
|
Kejajar
|
Garung
|
Prigi
|
Mandiraja
|
Kembangan
|
|
BOD
|
0,8
|
1,0
|
0,4
|
6,53
|
4,533
|
|
DO
|
4,4
|
2,6
|
5,4
|
6,6
|
6,7
|
|
Temperatur
|
19
|
22
|
24,17
|
27
|
26
|
|
Derajat Keasaman
|
7
|
7
|
7
|
7
|
7
|
|
Kecepatan Arus
|
0,270 m/s
|
0,320 m/s
|
0,555 m/s
|
0,313 m/s
|
0,966 m/s
|
|
Kejernihan
|
70
|
65,5
|
21,5
|
12,5
|
6,5
|
|
Lebar Sungai
|
4 m
|
19 m
|
40 m
|
31 m
|
40 m
|
|
Kedalaman
|
80cm
|
88,3cm
|
1,18m
|
60cm
|
30cm
|
|
Substrat Dasar
|
Batu&Kerikil
|
Batu&Kerikil
|
Batu&Kerikil
|
Batu&Pasir
|
Batu&Kerikil
|
|
Konduktivitas
|
26,6
|
26,6
|
26,6
|
26,6
|
26,6
|
|
Skor fisik Habitat
|
50
|
65
|
50
|
45
|
55
|
4.2 Pembahasan
4.2.1 DO (Oksigen Terlarut)
Hasil dari pengukuran DO
dapat dilihat pada grafik dibawah ini :
Gambar 1. Grafik DO (Dissolved Oxygen)
Dari hasil pengamatan kandungan oksigen di berbagai sungai bervariasi.
Kandungan Oksigen tertinggi terdapat di Sungai Kembangan dan kandungan oksigen
terendah terdapat di sungai Garung. Ketidakstabilan oksigen terlarut dapat
disebabkan oleh perbedaan temperatur yang mempengaruhi perbedaan oksigen dalam
air, juga dipengaruhi oleh tinggi atau rendahnya curah hujan yang terjadi.
DO yang terdapat pada semua stasiun paling rendah adalah 2,6 ppm. Hal ini
menunjukkan bahwa sungai – sungai tersebut belum tercemar sesuai dengan
pernyataan (Swingle, 1968) bahwa kandungan oksigen terlarut (DO) minimum adalah 2
ppm dalam keadaan normal dan tidak tercemar oleh senyawa beracun (toksik).
Kandungan oksigen terlarut minimum ini sudah cukup mendukung kehidupan
organisme. Idealnya, kandungan oksigen terlarut tidak boleh kurang dari 1,7 ppm
selama waktu 8 jam dengan sedikitnya pada tingkat kejenuhan sebesar 70 % (Huet,
1970).
4.2.2 BOD (Biological Oxygen Demand)
Hasil dari pengukuran BOD
dapat dilihat pada grafik dibawah ini :
Gambar 2. Grafik BOD (Biological Oxygen Demand)
Berdasarkan
grafik diatas diketahui bahwa nilai BOD di berbagai sungai tersebut dari hulu
ke hilir nilai bervariasi. Nilai BOD tertiggi terdapat di Sungai Mandiraja
yaitu sebesar 6,53 mg/l, sedangkan nilai BOD terendah terdapat di Sungai Prigi yaitu
sebesar 0,4 mg/l. Ini menunjukkan bahwa kondisi sungai Mandiraja sudah
tercemar karena jumlah BODnya melebihi batas maksimum BOD yaitu sebesar 4,53
mg/l. Sungai yang memiliki jumlah BOD dibawah batas Minimum dikatakan kurang baik karena bila
jumlah BOD pada sungai rendah, maka mikroorganisme tidak dapat mendekomposisi
bahan organik dalam kondisi aerobic karena tidak terpenuhinya jumlah kadar
oksigen terlarut yang dibutuhkan oleh mikroorganisme. Perbedaan nilai BOD di tiap
sungai dipengaruhi oleh faktor fisiko-kimia seperti suhu, kejernihan,
kekeruhan, dan salinitas. Sehingga nilai BOD akan berbeda di tiap sungainya.
4.2.3 Temperatur
Hasil dari pengukuran Temperatur
dapat dilihat pada grafik dibawah ini :
Gambar 3. Grafik Temperatur Perairan
Dari grafik diatas dapat dilihat hasil pengukuran temperatur sungai sebagai
berikut: sungai Kejajar (19⁰C), Garung (22⁰), Prigi (24,17⁰), Mandiraja (27⁰), dan Kembangan (26⁰), Telaga warna(22⁰) dan Telaga Pengilon(19,7⁰). Dari data tersebut dapat dilihat bahwa
sungai yang memiliki suhu paling tinggi adalah sungai pada daerah Mandiraja dengan temperatur mencapai 27oC yang terletak pada hilir sungai. Sedangkan
sungai yang terletak pada hulu sungai seperti sungai Kejajar memiliki temperatur yang lebih rendah, yaitu sekitar 19oC. Hal ini mungkin
disebabkan oleh lokasi sungai Kejajar yang terletak didataran tinggi dan
jarang mendapatkan sinar matahari yang banyak. Ini sesuai dengan tinjauan
pustaka yang menyatakan bahwa temperatur sangatlah dipengaruhi oleh intensitas
cahaya matahari yang sampai pada air sungai. Temperatur yang stabil dalam perairan adalah
25°C- 30°C. Temperatur optimum yang layak untuk kehidupan organisme yaitu
25°C-28°C(Barus,2002).
4.2.4 Derajat Keasaman Air (pH)
Hasil dari pengukuran pH
dapat dilihat pada grafik dibawah ini :
Gambar 4. Grafik Derajat Keasaman (pH)
Dari hasil data yang diperoleh tingkat derajat keasaman
air (pH) dari hulu ke hilir adalah sungai Kejajar
(7), Garung (7), Prigi (7), Mandiraja (7), dan Kembangan (7). Dari data tersebut rata-rata nilai pH nya
adalah 7 yang berarti netral, tidak terlalu asam atau basa,
dengan demikian air sungai tersebut dapat dinyatakan normal. Kelima sungai
tersebut mengandung pH yang mendekati ukuran netral (Mackereth et al, 1989).
4.2.5 Lebar Sungai
Hasil dari pengukuran
Lebar sungai dapat dilihat pada grafik dibawah ini :
Gambar 5. Grafik Lebar
Sungai
Dalam
praktikum pengukuran lebar sungai diperoleh data sebagai berikut, sungai Kejajar (4 m), Garung (19 m), Prigi (40 m), Mandiraja (31 m), dan Kembangan (40 m). Lebar sungai pada sungai serayu dari hilir ke hulu
memiliki perbedaan, semakin kehilir lebar sungainya semakin besar dibandingkan
pada bagian hulu. Dari data diatas dapat dilihat bahwa Prigi dan Kembangan mempunyai lebar sungai yang lebih lebar
dibandingkan dengan Sungai yang lainnya. Sedangkan lebar sungai yang paling
kecil terdapat pada sungai Kejajar yaitu 4m, ini
menunjukkan sungai kejajar memiliki lebar dibawah batas minimum karena batas
minimum lebar sungai adalah 5m (Maryono,2009). Hal ini mungkin disebabkan oleh bentuk topografi, substrat dasar, riparian
vegetation, erosi dan arus sungai yang membawa endapan dari dasar sungai
tersebut(Ewuise, 1990).
4.2.6
Kedalaman
Hasil dari pengukuran Kedalaman
dapat dilihat pada grafik dibawah ini :
Gambar 6. Grafik Kedalaman Sungai
Dari grafik diatas dapat dilihat bahwa
Sungai Prigi memiliki kedalaman paling tinggi yaitu 1,18 m dan Sungai kembangan memiliki
kedalaman paling rendah yaitu 0,3 m ,meskipun demikian kedalaman sungai
Kembangan masih diatas batas minimum kedalaman sunga. Kedalaman di sungai serayu pada setiap stasiun
bervariasi, perbedaan tersebut disebabkan oleh adanya perbedaan suatu
substrat dasar, kecepatan arus dan topografi dari sungai tersebut (Hawkins, 1979).
4.2.7 Kejernihan air
Hasil dari pengukuran Kejernihan
air dapat dilihat pada grafik dibawah ini :
Gambar 7. Grafik Kejernihan Air
Dari pangamatan tingkat kejernihan air yang dilakukan disepanjang daerah aliran sungai (DAS) Serayu, telah
diperoleh data sebagai berikut: sungai Kejajar (70 cm), Garung (65,5 cm), Prigi (21,5 cm), Mandiraja (12,5 cm), dan Kembangan (6,5 cm). Dari data tersebut sungai Kejajar yang letaknya berada dihulu sungai mempunyai tingkat kecerahan yang tinggi
sebesar 70 cm dibandingkan dengan sungai yang berada dihilir
sungai seperti sungai Kembangan yang memiliki tingkat kecerahan air yang
hanya 8 cm. Ini
disebabkan Kecepatan arus yang ada pada Hulu Sungai lebih rendah dibandingkan
dengan hilir sungai dan kandungan substrat dihulu sungai lebih sedikit karena
sudah terbawa ke hilir sungai. Hal ini sesuai dengan pustaka yang didapat bahwa Kecerahan perairan sangat dipengaruhi oleh kecepatan arus terhadap
kadar O2 terlarut, juga disebabkan
oleh kandungan substrat dasar yang berupa lumpur, partikel yang mengendap (Odum,1996).
4.2.8 Substrat Dasar
Hasil dari pengukuran Substrat
dasar dapat dilihat pada Tabel dibawah ini :
Tabel 3. Substrat Dasar di
DAS Serayu
|
No.
|
Stasiun
Pengamatan
|
Substrat
Dasar
|
|
1
|
Kejajar
|
Batu dan Kerikil
|
|
2
|
Garung
|
Batu dan Kerikil
|
|
3
|
Prigi
|
Batu dan Kerikil
|
|
4
|
Mandiraja
|
Batu dan Pasir
|
|
5
|
Kembangan
|
Batu dan Kerikil
|
Sungai Serayu substratnya
berbeda-beda di setiap stasiun. Substrat dasarnya yaitu di Mandiraja: batu dan
pasir, Kijajar: batu besar dan Garung: kerikil. Dari hasil pengamatan tersebut
dapat dilihat bahwa sungai pada daerah hilir substat dasrarnya didominasi oleh
lumpur dan pasir. Sedangkan pada daerah hulu substrat dasaranya didominasi oleh
batu cadas, batu kerikil dan pasir.( Hawkins,1979)
4.2.9 Konduktivitas
Hasil dari pengukuran
Konduktivitas dapat dilihat pada grafik dibawah ini :
Gambar 9. Grafik
konduktivitas
Dalam praktikum
pengukuran konduktivitas dari air sungai diperoleh data sebagai berikut: Sungai Kejajar (26,6 µmhos), Garung (26,6 µmhos), Prigi (26,6 µmhos), Mandiraja (26,6 µmhos),
dan Kembangan (26,6 µmhos). Dari
Data tersebut dapat dilihat bahwa konduktivitas air dari daerah aliran sungai
(DAS) Serayu berada dibawah 400 µmhos yang berarti perairan sungai Serayu baik jika
digunakan oleh makhluk hidup untuk tempat tinggal bagi organisme akuatik dan
dikonsumsi oleh makhluk hidup lainnya.
4.2.10 Skor Fisik Habitat
Hasil dari pengukuran Skor Fisik Habitat dapat dilihat pada
grafik dibawah ini :
Gambar 10. Grafik
Skor Fisik Habitat
Kondisi fisik habitat di
bagian hulu seperti Kembangan, Mandiraja, Garung dan Kejajar sesuai kriteria penilaian kondisi fisik habitat menurut Barbour and
Stribling yaitu sub optimal. Berarti daerah hulu sungai Serayu tersebut
memiliki organisme akuatik yang bervariasi, baik kondisi lingkungan sekitarnya
bagi kehidupan organisme akuatik dan organisme-organisme lainnya. Sedangkan
pada daerah hilir seperti sesuai kriteria penilaian kondisi fisik habitat tabel
Barbour dan Stribling yaitu marginal. Dari kriteria tersebut memiliki arti
bahwa kehidupan organisme didaerah hilir sungai Serayu tidak begitu bervariasi
jika dibandingkan dengan daerah hilir. Dari data yang diperoleh sungai Garung adalah sungai yang memiliki skor fisik habitat paling tinggi yaitu 60 dan sungai Mandiraja adalah sungai yang memiliki skor habitat paling
rendah yaitu 45.
3.3.11 Kecepatan Arus
Hasil dari pengukuran Kecepatan
arus dapat dilihat pada grafik dibawah ini :
Gambar 11. Grafik Kecepatan Arus
Kecepatan arus dihilir lebih tinggi
dibandingkan dengan kecepatan arus pada hulu sungai. Dari grafik diatas dapat
dilihat bahwa Sugai kembangan memiliki kecepatan arus paling tinggi sebesar
0,966 m/s,dan sungai Kejajar memiliki kecepatan arus sebesar 0,27 m/s. Ini
dipengaruhi oleh kedalaman dan keleburan yang dimiliki oleh sungai.Hal tersebut
sesuai dengan pustaka yang didapat bahwa Semakin dalam suatu perairan maka
kecepatan arusnya semakin berkurang(Siregar,2004).
V. KESIMPULAN DAN SARAN
5.1
Kesimpulan
Berdasarkan dari hasil
pengamatan parameter Fisik-Kimia disungai maka dapat diambil kesimpulan sebagai
berikut:
1.
Pola
perubahan dari hulu ke hilir sungai mengalami perubahan yang bervariasi sesuai
dengan keadaan topografi dari sungai tersebut.
2.
Keadaan
sungai Serayu pada saat ini baik bagi kehidupan organisme akuatik dan organisme
lainnya yang hidup disepanjang aliran sungai (DAS) Serayu.
5.2 Saran
Dimohon kedepannya praktikum
ini tetap berjalan agar kita dapat memantau perubahan-perubahan yang terjadi
DAFTAR PUSTAKA
Arifin, S., 1995, Menanggulangi
Penyakit ikan dengan Imunisasi Maternal, Majalah Primadona, Edisi Nopember
Sary,
2006. Bahan Kuliah Manajemen
Kualitas Air. Politehnik
vedca. Cianjur
Hawkins, H.A.1979. Invertebrates an
Indikator Of River Water Quality. In James, A. And L. Erison, ED. Biology Indikator Of Water Quality. Jon
Willey Sons, Toronto.
Irwan, Zoer’aini Djamal. 1992. Prinsip-prinsip
Ekologi dan Organisasi Ekosistem Komunitas dan Lingkungan. Bandung : Bumi Aksara.
Nyabakken,
James W. 1992. Biologi Laut Suatu Pendekatan Ekologi. PT Gramedia
Pustaka Utama: Jakarta.
Barus, 2002. Biologi Laut Suatu
Pendekatan Ekologis. Jakarta: PT.
Gramedia, Hal 459
Odum, P. E. 1971. Fundamental of Ecology. W. B. Sanders Company and Toppan Company Ltd.
London.
Odum, T. Howard. 1992. Ekologi System. Gajah Mada
University Press. Rajawali. Yogyakarta.
Odum, E.P 1998. Dasar Ekologi. (terjemahan) edisi 3.
Gajah Mada Univ. Press Yogyakarta.
Odum,
E.P.1996. Dasar-Dasar Ekologi. Diterjemahkan oleh Thahmosamingan.
Yogyakarta: Gadjah Mada Press.
Siregar, A. S. Toni, P. S. Setijanto. 2001.
Studi Ekologi Fauna Benthik (Macrobrachidium) di Sungai Banjaran, Pelus
dan Logawa, Kabupaten Banyumas. Biosfera
vol. 18 No 1.
Barus, T. A. 2002. Pengantar Limnologi.
Universitas Sumatra Utara. Medan.
Effendi,2003.Telaah Kualitas Air.Kanisius.Yogyakarta.
Salmin. 2000. Kadar Oksigen Terlarut di
Perairan Sungai Dadap, Goba, Muara Karang dan Teluk Banten. Dalam : Foraminifera Sebagai
Bioindikator Pencemaran, Hasil Studi di
Perairan Estuarin Sungai Dadap, Tangerang (Djoko P. Praseno, Rositasari dan S.
Hadi Riyono, eds.) P3O -
LIPI hal 42 – 46.
Hadiatni, R.P. Eva. C dan Edi. S. 2001.
Simulasi Pembuangan Limbah Organik Terhadap Konsentrasi Oksigen Terlarut di
Sepanjang Aliran Sungai. Jurnal Teknologi Industri dan Informasi.
Donie, S. 2002. Prilaku bertani masyarakat
Dieng, kelestarian daerah aliran sungai dan solusinya. hlm. 121-132 dalam Prosiding
Ekspose Hasil Penelitan dan Pengembangan Teknologi Pengelolaan Daerah Aliran
Sungai. Wonosobo, 9 September 2002.
Arifin, S., 1995, Menanggulangi
Penyakit ikan dengan Imunisasi Maternal, Majalah Primadona, Edisi Nopember
Hutagalung RA.
2010. Ekologi Dasar. Jakarta. Hlm.
13-15
Asdak, 2007. Hidrologi Dan
Pengelolaan Daerah Aliran Sungai. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press
Ewusie, J.K. 1990. Pengantar Ekologi
Tropika (terjemahan). ITB Bandung: Bandung.
Mackereth, F.J.H., Heron, J and talling, J.F. 1989.
Water analysis. Fresh-water Biological Association, Cumbria, UK. 120 P.
Rayuni, Safitri.
2008. Kualitas Air Bersih. www.safitrirayuni.blogspot.com .
Diakses 15 Desember 2012.
LAMPIRAN
Tabel 1. Tabel Pengukuran BOD
|
Stasiun
|
BOD
|
BOD
|
||
|
DO
|
BOD0
|
BOD5
|
||
|
Kejajar
|
4,4
|
7
|
5
|
0,8
|
|
Garung
|
2,6
|
4,8
|
2,6
|
1
|
|
prigi
|
5,4
|
6,4
|
3,6
|
0,4
|
|
Mandiraja
|
6,6
|
7,2
|
4,4
|
6,53
|
|
Kembangan
|
6,7
|
2,6
|
5,4
|
4,533
|
|
Blanko
|
-
|
7,6
|
6,4
|
-
|