Minggu, 30 Desember 2012


LAPORAN PRAKTIKUM EKOLOGI PERAIRAN
POLA LONGITUDINAL SUNGAI

















Disusun oleh :
                                                  Nama    : Rini Puji Lestari
                                                  NIM      : H1K011001






JURUSAN PERIKANAN DAN KELAUTAN
                                       FAKULTAS SAINS DAN TEKNIK          
UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
PURWOKERTO
2012






I.                  PENDAHULUAN
1.1.   Latar Belakang
Ekosistem, yaitu unit fungsional dasar dalam ekologi yang di dalamnya tercakup organisme dan lingkungannya (lingkungan biotik dan abiotik) dan di antara keduanya saling memengaruhi (Odum, 1993). Ekosistem dikatakan sebagai suatu unit fungsional dasar dalam ekologi karena merupakan satuan terkecil yang memiliki komponen secara lengkap, memiliki relung ekologisecara lengkap, serta terdapat proses ekologi secara lengkap, sehingga di dalam unit ini siklusmateri dan arus energi terjadi sesuai dengan kondisi ekosistemnya. 
Air adalah suatu zat yang mengelilingi organisme yang hidup diperairan. Air juga merupakan bagian terbesar pembentuk tubuh tumbuhan dan binatang yang ada disekitar ataupun hidup didalam air. Air juga merupakan medium tempat terjadinya berbagai reaksi kimia, baik diluar maupun didalam tubuh organisme hidup (Nybakken, 1992). Sungai sebagai perairan umum yang berlokasi di darat dan merupakan suatu ekosistem terbuka yang berhubungan erat dengan sistem-sistem terestrial dan lentik (tenang). Ciri-ciri umum daerah aliran sungai adalah semakin kehulu daerahnya pada umumnya mempunyai tofograpi makin bergelombang sampai bergunung-gunung (Odum, 1996).
Sungai merupakan suatu ekosistem yang bersifat terbuka dan erat hubunganya dengan ekosistem lain disekitarnya. Sungai Serayu, yang terletak diProvinsi Jawa Tengah bagian selatan dan Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, dengan luas 12.338,4583 km2. Secara administratif, daerah yang berada di aliran wilayah sungai serayu adalah sebagai berikut: Prov. Jawa Tengah : Cilacap, Banyumas, Purbalingga, Banjarnegara, Wonosobo, Temanggung, Magelang, Purworejo, Kebumen. Provinsi DIY : Kodya Yogyakarta, Sleman, Kulonprogo, Bantul, Gunungkidul. Kondisi topografi secara umum terdiri dari wilayah pegunungan, perbukitan dan dataran rendah.
Pola longitudinal adalah pola memanjang dari bagian hulu, tengah dan hilir sungai. Pola ini digunakan di suatu perairan yang mengalir seperti sungai dan berfungsi untuk mengetahui perubahan faktor fisika kimia suatu lingkungan perairan dan mengetahui organisme yang hidup di perairan tersebut. Distribusi longitudinal terjadi dimana kemiringan tidak jauh berbeda dari hulu ke hilir. Perubahan longitudinal yang jelas berhubungan dengan perubahan yang sangat terlihat yaitu suhu, kecepatan arus dan pH (Odum, 1996).
1.2    Tujuan
Tujuan praktikum ekologi perairan Pola Longitudinal Sungai adalah sebagai berikut :  
1.    Mengetahui kandungan oksigen terlarut, kecepatan arus, konduktivitas, pH, temperatur, BOD, kejernihan air, substrat dasar.
2.    Mengetahui faktor fisikokimia yang mana yang menunjukkan pola longitudinal.


















II.      TINJAUAN PUSTAKA
2.1.   Sungai
Sungai Serayu merupakan sungai terbesar yang mengalir di Karesidenan Banyumas. Lahan di sekitar DAS Serayu banyak dimanfaatkan oleh masyarakat, antara lain sebagai pemukiman, pertanian, perkebunan, industri dan kegiatan penambangan. Sungai Serayu juga dimanfaatkan untuk kepentingan sebagai sumber air, yang merupakan sumber utama bagi kebutuhan air baku untuk konsumsi domestik, irigasi, rekreasi, pembangkit tenaga listrik, tempat pembuangan limbah baik domestik maupun industri, transportasi, penggalian tambang golongan C (batu dan pasir) dan perikanan (keramba) oleh penduduk sekitar (Boy,2008).
2.2.  Parameter Fisik-Kimia
2.2.1.      DO
Oksigen terlarut yang terkandung di dalam air, berasal dari udara dan hasil proses fotosintesis tumbuhan air. Oksigen diperlukan oleh semua mahluk yang hidup di air seperti ikan, udang, kerang dan hewan lainnya termasuk mikroorganisme seperti bakteri. Kadar oksigen yang terlarut bervariasi tergantung pada suhu, salinitas, turbulensi air, dan tekanan atmosfer. Peningkatan suhu sebesar 1oC akan meningkatkan ,konsumsi oksigen sekitar 10 Menurut Boyd (1990), jumlah oksigen yang dibutuhkan oleh organisme akuatik tergantung spesies, ukuran, jumlah pakan yang dimakan, aktivitas, suhu, dan lain-lain. Konsentrasi oksigen yang rendah dapat menimbulkan anorexia, stress, dan kematian pada ikan. Menurut Swingle dalam Boyd (1982), proses reproduksi dan pertumbuhan ikan akan berjalan dengan baik, bila dalam suatu kolam kandungan oksigen terlarut sama dengan atau lebih besar dari 5 mg/L. Faktor yang mempengaruhi DO adalah kekeruhan air, suhu ,salinitas dan pergerakan arus(Salmin,2005).
2.2.2.      BOD (Biological Oxigen Demand) 
BOD (Biological Oxigen Demand)  adalah suatu karakteristik yang menunjukkan jumlah oksigen terlarut yang diperlukan oleh mikroorganisme (biasanya bakteri) untuk mengurai atau mendekomposisi bahan organik dalam kondisi aerobik (Umaly dan Cuvin, 1988; Metcalf & Eddy, 1991). Ditegaskan lagi oleh Boyd (1990), bahwa bahan organik yang terdekomposisi dalam BOD adalah bahan organik yang siap terdekomposisi ( readily decomposable organic matter). Faktor yang mempengaruho BOD adalah jumlah senyawa organik yang diuraikan, tersedianya mikroorganisme aerob dan tersedianya jumlah oksigen yang dibutuhkan dalam proses penguraian tersebut (Barus, 1990 dalam Sembiring,2008).
2.2.3.      Temperatur
Suhu adalah salah satu faktor yang penting dalam suatu perairan untuk mengukur temperatur lingkkungan tersebut. Suhu merupakan salah satu factor yang penting dalam suatu perairan karena suhu merupakan faktor pembatas bagi ekosistem perairan dan akan membatasi kehidupan organisme akuatik (Oudum, 1971). Menurut Sucipto dan Eko (2005) menyatakan bahwa suhu mematikan (lethal) hampir untuk semua spesies ikan bekisar 10-11ºC selama beberapa hari. Menurut Barus (2002), kisaran suhu air yang baik dalam perairan dan kehidupan ikan yaitu berkisar antara 23-32ºC. Faktor yang mempegaruhi suhu adalah intensitas cahaya, ketinggian geografis ,kanopii dari pepohonan yang tumbuh di tepi sungai (Barus, 2010).
2.2.4.      Derajat Keasaman (pH)
Derajat keasaman (pH) berkaitan erat dengan karbondioksida dan alkalinitas, semakin tinggi pH, semakin tinggi alkalinitas dan semakin rendah kadar kandungan dioksida bebas (Mackereth et al., 1989). Kondisi perairan yang bersifat sangat asam maupun sangat basa akan membahayakan kelangsungan hidup organisme karena akan menyebabkan terjadinya gangguan metabolisme dan respirasi serta dapat meningkatkan konsentrasi amonia yang bersifat sangat toksik bagi organisme (Barus, 2002).
2.2.5.      Lebar sungai
Lebar adalah jarak antara sisi yang kiri dengan sisi yang kanan. Lebar sungai sangatlah dipengaruhi oleh riparian vegetation yang menjaga terjadinya pengikisan Konduktivitas air yang baik bagi kehidupan suatu mahluk hidup di perairan  yaitu di bawah 400μs. Konduktivitas perairan yang melebihi atau diatas 400μs mahluk hidup atau organisme yang hidup di perairan akan stress dan akan mati. Jika di perairan sungai terdapat banyak partikel maka hantaran listrik tinggi (Ewuise, 1990).
2.2.6    Kedalaman.
Kedalaman adalah jarak antara dasar sampai ke permukaan sungai. Kedalaman merupakan penyebab terjadinya perbedaan dan keanekaragaman didalam perairan dasar, tengah dan permukaan. Kedalaman merupakan salah satu faktor yang menentukan hidrobiota di dalam suatu perairan. Habitat dengan kedalaman berbeda akan berpengaruh terhadap struktur komunitas organisme yang ada di dalamnya (Odum, 1971). Kedalaman suatu perairan melebihi dari 3 meter akan mengganggu proses fotosintesis, karena cahaya matahari tidak dapat menembus kedasar perairan yang terlalu dalam (Hawkins, 1979).
2.2.7  Kejernihan air
Penetrasi cahaya seringkali dihalangi oleh zat yang terlarut dalam air, membatasi zona fotosintesa dimana habitat akuatik dibatasi oleh kedalaman. Kekeruhan apabila disebabkan oleh lumpur dan partikel yang dapat mengendap pada dasar perairan, hal ini disebabkan oleh organisme, ukuran kekeruhan merupakan indikasi produktivitas kejernihan dapat diukur dengan alat yang amat sederhana yang disebut cakram secchi. Pada daerah sungai terdapat 2 macam zona aliran air, zona itu adalah zona aliran deras dan zona air tenang. Zona air deras adalah zona dimana daerah aliran sungai yang dangkal dan biasanya terletak pada hulu sungai. Arus tersebut berfungsi untuk membuat dasar sungai bersih dari endapan dan material lainnya. Oleh karena itu daerah pada hulu sungai memiliki tingkat kecerahan yang tinggi. Sedangkan pada zona air tenang adalah bagian sungai yang dalam yang kecepatan arusnya telah berkurang, maka lumpur dan material yang berada dalam air cenderung mengendap pada dasar perairan, sehingga memiliki tingkat kecerahan yang rendah. Zona ini biasanya terdapat pada hilir sungai (Odum,1996).
 2.2.8  Substrat dasar
Substrat dasar adalah kondisi dasar dari perairan yang menjadi tempat tinggal bagi benthos dan menjadi kisaran toleransi bagi beberapa makhluk hidup. Setiap ekosistem tergantung dan dapat dipengaruhi oleh faktor-faktor tempat, waktu dan masing-masing membentuk basis-basis perbedaan diantara ekosistem itu sendiri sebagai pencerminan sifat-sifat yang khas (Odum, 1996). Substrat dasar berupa batu besar, kerikil biasanya banyak ditemukan didaerah hulu yang ditempati oleh banyak organisme. Hal ini disebabkan oleh bentuk topografi dari sungai tersebut, dimana arus deras biasanya membawa endapan-endapan pada dasar sungai. Sedangkan substrat dasar yang berupa lumpur, tanah liat berpasir biasanya ditemukan didaerah hilir yang ditempati oleh sedikit organisme (Hawkins, 1979).
 2.2.9 Konduktivitas
 Konduktivitas adalah jumlah ion-ion terlarut per volumenya dan mobilitas ion-ion tersebut, satuannya adalah mS/cm (milli-Siemens per centimeter). Konduktivitas air yang baik bagi kehidupan suatu makhluk hidup di perairan  yaitu di bawah 400μs. Konduktivitas bertambah dengan jumlah yang sama dengan bertambahnya salinitas sebesar 0,01, temperatur sebesar 0,01 dan kedalaman sebesar 20 meter. Secara umum, faktor yang paling dominan dalam perubahan konduktivitas di air adalah temperature (Asdak,2007).
 2.2.10. Skor Fisik Habitat
Skor fisik habitat adalah nilai dari kondisi yang terdapat pada suatu lingkungan habitat sungai tertentu. Dari nilai fisik tersebut dapat diperoleh bagaimana kondisi pada lingkungan tersebut, apakah lingkungan tersebut dalam keadaan Sub optimal, optimal, marginal atau poor (buruk) bagi organisme yang hidup didalamnya maupun yang ada disekitar sungai tersebut. Untuk dapat mendeskripsikan berapa skor fisik habitat dari suatu ekosistem dapat menggunakan tabel Barbour dan Stribling tahun 1991. (Lan et al. 1978).

2.2.11  Kecepatan Arus
Arus merupakan suatu pergerakan air yang mengakibatkan perpindahan horizontal dan vertical masa air. Menurut barus (2001), arus air merupakan faktor yang mempunyai peranan yang sangat penting baik pada perairan letik maupun pasa perairan lentik. Hal ini berhubungan dengan penyebarn organisme, gas-gas terlarut dan mineral yang terdapat di dalam air. Kecepatan aliran air akan bervariasi secara vertikal. Arus air pada perairan lotik umumnya bersifat tusbulen yaitu arus air yang bergerak ke segala arah sehingga air akan terdistribusi ke seluruh bagian dari perairan. Faktor-faktor yang mempengaruhi kecepatan arus sungai adalah kemiringan, kesuburan kadar sungai, juga kedalaman dan keleburan sungai, yang membuat kecepatan arus disepanjang aliran sungai berbeda (ozum 1993 dalam suliati,2006). Pada perairan letik umumnya kecepatan arus berkisar antara 3 m / detik (Barus,2001).
III.             MATERI DAN METODE
3.1.Materi
3.1.1.      Alat
Alat yang digunakan dalam praktikum ini adalah botol winkler, pipet tetes, spluit, labu erlenmeyer, gelas ukur, termometer, kertas pH, tongkat penduga, keping secchii, tali rafia, Konduktivitimeter, dan tabel Barbour dan Stribling.
3.1.2.      Bahan
Bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah larutan MnSO4, KOH-KI, Larutan H2SO4, Larutan Na2S2O3, indikator amilum dan sampel air sungai.
3.2.Metode
Metode yang digunakan dalam praktikum ini dilakukan dengan metode pengukuran faktor fisikokimia air dari hulu sampai dengan hilir sepanjang sungai Serayu. Parameter yang akan di ukur yaitu DO, BOD, temperatur, pH, lebar sungai, kedalaman, kejernihan air, substrat dasar, konduktivitas dan salinitas, skor fisik habitat, dan kecepatan arus.
3.2.1.      Pengukuran DO (Dissolved Oxygen)
Sampel air diambil menggunakan botol wingkler sebanyak 250ml tanpa ada gelembung. Larutan MnSO4, KOH-KI masing-masing 15 tetes, biarkan hingga terbentuk endapan, tambahkan larutan H2SO4 ke dalam botol kemudian dihomogenkan. Kemudian di ambil sebanyak 100ml ke labu Erlenmeyer, kemudian di titrasi denga larutan Na2S2O3 sampai larutan berwarna kuning muda, kemudian tambahkan amilum 3 tetes hingga berwarna biru. Kemudian di titrasi kembali hingga warna biru hilang.


Rumus perhitungannya :
DO =
Keterangan :
DO    = Oksigen terlarut (mg/l)
p        = volume larutan Na2S2O3 (ml)
q        = normalitas larutan (n)
8        = bobot setara larutan
3.2.2.      Pengukuran BOD (Biological Oxygen Demand)
Pengukuran BOD dilakukan dengan metode Wingkler, yaitu sampel dimasukkan kedalam dua botol Wingkler volume 250ml sampai penuh. Botol Wingkler pertama segera diperiksa kandungan oksigennya (DO0 hari), sedangkan botol Wingkler kedua diinkubasi selama 5 hari pada suhu 200C. Setelah diinkubasi 5 hari, diperiksa kandungan oksigennya (DO5 hari).
Kandungan BOD dapat dihitung dengan rumus :
Keterangan :
BOD = Kandungan oksigen yang dibutuhkan mikroorganisme (mg/l)
     = Oksigen terlarut sampel pada nol hari (mg/l)
     = Oksigen terlarut sampel pada lima hari (mg/l)
     = Oksigen terlarut blanko pada nol hari (mg/l)
     = Oksigen terlarut blanko pada lima hari (mg/l)
3.2.3.      Pengukuran Temperatur
Pengukuran temperatur dilakukan dengan cara mencelupkan termometer pada perairan, tunggu sampai beberapa menit sampai pengukuran pada termometer stabil dan tidak berubah-ubah, pengukuran ini dilakukan di tiga titik (pinggir, tengah, pinggir), lalu temperatur yang ketiga titik tersebut dirata-ratakan.
3.2.4.      Pengukuran Derajat Keasaman (pH)
Dicelupkan kertas pH ke dalam air, perubahan warna yang terjadi pada kertas lakmus kemudian disamakan dengan warna skala pH yang tercantum.
3.2.5.      Lebar Sungai
Dalam menentukan lebar dari sungai yang diamati digunakan estimasi (pendugaan) secara visual.
3.2.6.      Pengukuran Kedalaman
Dilakukan pengukuran pada tiap 2 meter lebar sungai dengan tongkat penduga yang telah diberi skala panjang.
3.2.7.      Pengukuran Kejernihan Air
Masukkan keping Secchii ke dalam air. Ukurlah kedalaman sampai batas antara hitam dan putih tak dapat di bedakan. Jika sampai dasar sungai masih dapat di bedakan, catatlah kedalaman sampai dasar tersebut.
3.2.8.      Pengukuran Substrat Dasar
Substrat di estimasi menggunakan tabel Barbaur dan stribing, dan dilakukan perhitungan skor fisik habitat setiap stasiun pengamatan. Diestimasi secara visual persentasi bagian dasar sungai yang tertutup lumpur, pasir, kerikil, batu.
3.2.9.      Pengukuran Konduktivitas
Konduktivitas diukur dengan menggunakan alat konduktivitimeter dengan cara mencelupkan sensor konduktivitimeter kedalam air sungai. Kemudian hasil yang diperoleh dicatat.
3.2.10.  Pengamatan Skor Fisik Habitat
Substrat di estimasi menggunakan tabel Barbaor dan stribling, dan dilakukan perhitungan skor fisik habitat setiap stasiun pengamatan.
Tabel 1. Kriteria penilaian kondisi fisik habitat Barbour dan Stribling (1991)
Habitat Parameter
Optimal
Suboptimal
Marginal
Poor
Substrat dasar
Lebih dari 60% dasara perairan terdiri atas kerikil, batu atau cadas dengan porsi yang kurang lebih sama. SKOR 20
30%-60% darisubstratdasarpenilaianberupabatuanataucadas. Substrat mungkin didominasi oleh salah satu kelas ukuran tersebut.
SKOR 15
10%-30% merupakan satu materi yang besar tetapi lumpur atau pasir 70-90% mendominasi substrat dasar.
SKOR 10
Substrat didominasi oleh lumpur dan pasir kerikil dan pasir dan materi yang lebih besar.
SKOR 5
Kekomplekan habitat
Berbagai macam tipe kayu pohon, cabang, tumbuhan akuatik terdapat pada segmen sungai membentuk habitat yang bervariasi. Segmen sungai tertutup kanopi.
SKOR 20
Substrat cukup bervariasi. Segmen sungai cukup terlindungi oleh kanopi.
SKOR 15
Habitat didominasi oleh 1 atau 2 macam komponen substrat, tumbuhan tepi yang menaungi segmen sungai sedikit.
SKOR 10
Habitat monoton pasir dan lumpur menyebabkan habitat tidak bervariasi.
SKOR 5
Kualitas yang menggenang
25% dari bagian yang menggenang sama atau lebih lebar dari setengah lebar sungai dan kedalamannya >1 m.
SKOR 20
<5% bagian yang menggenang kedalamannya >1 m dan lebih lebih lebar dari ½ lebar sungai. Umumnya bagian yang dalam ini lebih kecil dari setengah lebar sungai dan kedalamannya >1m.
SKOR 15

Kurang dari 1% bagian yang menggenang kedalamannya >1m dan lebih dari lebar sungai. Bagian yang menggenang ini mungkin sangat dalam/dangkal.Habitat tidak bervariasi.
SKOR 10
Bagian yang menggenang kecil dan dangkal bahkan mungkin tidak terdapat bagian yang menggenang.
SKOR 5
Kestabilan tepi sungai
Tidak terdapat bukti-bukti bahwa tempat tersebut pernah terjadi erosi atau berpotensi untuk erosi.
SKOR 20
Jarang terjadi bagian tepi yang gugur, kemungkinan gugur ada tetapi rendah.
SKOR 15
Bagian tepi ada yang mengalami erosi saat banjir.
SKOR 10
Bagian tepi sungai tidak stabil, sering terjadi erosi.
SKOR 5

3.2.11     Pengukuran Kecepatan Arus
Pengukuran kecepatan arus menggunakan metode apung. Lakukan dengan menggunakan botol air mineral ukuran 600 ml yang terisi air setengah penuh, kemudian ikat botol tersebut dengan tali rafia sepanjang 10 meter. Lemparkan botol ke sungai. Catat waktu yang dibutuhkan botol tersebut untuk hanyut sepanjang 10 m, kemudian menghitung kecepatan arus dengan menggunakan rumus :
Keterangan :
v = Kecepatan arus (m/s)
s = Jarak yang ditempuh (m)
t = waktu (s)
3.3         Waktu dan Tempat
Praktikum ini dilaksanakan pada Sabtu, 8 Desember 2012 di sepanjang daerah aliran sungai (DAS) Serayu dari hulu ke hilir pada lima stasiun pengamatan  yaitu Kejajar, Garung, Prigi, Mandiraja, dan Kembangan.






IV.             HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1.  Hasil
Tabel 1. Parameter Fisikokimia
Parameter Fisikokimia
Stasiun

Kejajar
Garung
Prigi
Mandiraja
Kembangan
BOD
0,8
1,0
0,4
6,53
4,533
DO
4,4
2,6
5,4
6,6
6,7
Temperatur
19
22
24,17
27
26
Derajat Keasaman
7
7
7
7
7
Kecepatan Arus
0,270 m/s
0,320 m/s
0,555 m/s
0,313 m/s
0,966 m/s
Kejernihan
70
65,5
21,5
12,5
6,5
Lebar Sungai
4 m
19 m
40 m
31 m
40 m
Kedalaman
80cm
88,3cm
1,18m
60cm
30cm
Substrat Dasar
Batu&Kerikil
Batu&Kerikil
Batu&Kerikil
Batu&Pasir
Batu&Kerikil
Konduktivitas
26,6
26,6
26,6
26,6
26,6
Skor fisik Habitat
50
65
50
45
55

4.2         Pembahasan
4.2.1 DO (Oksigen Terlarut)
Hasil dari pengukuran DO dapat dilihat pada grafik dibawah ini :
Gambar 1. Grafik DO (Dissolved Oxygen)
Dari hasil pengamatan kandungan oksigen di berbagai sungai bervariasi. Kandungan Oksigen tertinggi terdapat di Sungai Kembangan dan kandungan oksigen terendah terdapat di sungai Garung. Ketidakstabilan oksigen terlarut dapat disebabkan oleh perbedaan temperatur yang mempengaruhi perbedaan oksigen dalam air, juga dipengaruhi oleh tinggi atau rendahnya curah hujan yang terjadi.
DO yang terdapat pada semua stasiun paling rendah adalah 2,6 ppm. Hal ini menunjukkan bahwa sungai – sungai tersebut belum tercemar sesuai dengan pernyataan (Swingle, 1968) bahwa kandungan oksigen terlarut (DO) minimum adalah 2 ppm dalam keadaan normal dan tidak tercemar oleh senyawa beracun (toksik). Kandungan oksigen terlarut minimum ini sudah cukup mendukung kehidupan organisme. Idealnya, kandungan oksigen terlarut tidak boleh kurang dari 1,7 ppm selama waktu 8 jam dengan sedikitnya pada tingkat kejenuhan sebesar 70 % (Huet, 1970).
4.2.2 BOD (Biological Oxygen Demand)
Hasil dari pengukuran BOD dapat dilihat pada grafik dibawah ini :
Gambar 2. Grafik BOD (Biological Oxygen Demand)
Berdasarkan grafik diatas diketahui bahwa nilai BOD di berbagai sungai tersebut dari hulu ke hilir nilai bervariasi. Nilai BOD tertiggi terdapat di Sungai Mandiraja yaitu sebesar 6,53 mg/l, sedangkan nilai BOD terendah terdapat di Sungai Prigi yaitu sebesar 0,4 mg/l. Ini menunjukkan bahwa kondisi sungai Mandiraja sudah tercemar karena jumlah BODnya melebihi batas maksimum BOD yaitu sebesar 4,53 mg/l. Sungai yang memiliki jumlah BOD dibawah batas  Minimum dikatakan kurang baik karena bila jumlah BOD pada sungai rendah, maka mikroorganisme tidak dapat mendekomposisi bahan organik dalam kondisi aerobic karena tidak terpenuhinya jumlah kadar oksigen terlarut yang dibutuhkan oleh mikroorganisme. Perbedaan nilai BOD di tiap sungai dipengaruhi oleh faktor fisiko-kimia seperti suhu, kejernihan, kekeruhan, dan salinitas. Sehingga nilai BOD akan berbeda di tiap sungainya.
4.2.3   Temperatur
Hasil dari pengukuran Temperatur dapat dilihat pada grafik dibawah ini :
Gambar 3. Grafik Temperatur Perairan
Dari grafik diatas dapat dilihat hasil pengukuran temperatur sungai sebagai berikut: sungai Kejajar (19C), Garung (22), Prigi (24,17), Mandiraja (27), dan Kembangan (26), Telaga warna(22) dan Telaga Pengilon(19,7). Dari data tersebut dapat dilihat bahwa sungai yang memiliki suhu paling tinggi adalah sungai pada daerah Mandiraja dengan temperatur mencapai 27oC yang terletak pada hilir sungai. Sedangkan sungai yang terletak pada hulu sungai seperti sungai Kejajar memiliki temperatur yang lebih rendah, yaitu sekitar 19oC. Hal ini mungkin disebabkan oleh lokasi sungai Kejajar yang terletak didataran tinggi dan jarang mendapatkan sinar matahari yang banyak. Ini sesuai dengan tinjauan pustaka yang menyatakan bahwa temperatur sangatlah dipengaruhi oleh intensitas cahaya matahari yang sampai pada air sungai. Temperatur yang stabil dalam perairan adalah 25°C- 30°C. Temperatur optimum yang layak untuk kehidupan organisme yaitu 25°C-28°C(Barus,2002).
4.2.Derajat Keasaman Air (pH)
Hasil dari pengukuran pH dapat dilihat pada grafik dibawah ini :
Gambar 4. Grafik Derajat Keasaman (pH)
Dari hasil data yang diperoleh tingkat derajat keasaman air (pH) dari hulu ke hilir adalah sungai Kejajar (7), Garung (7), Prigi (7), Mandiraja (7), dan Kembangan (7). Dari data tersebut rata-rata nilai pH nya  adalah 7 yang berarti netral, tidak terlalu asam atau basa, dengan demikian air sungai tersebut dapat dinyatakan normal. Kelima sungai tersebut mengandung pH yang mendekati ukuran netral (Mackereth et al, 1989).










4.2.5   Lebar Sungai
Hasil dari pengukuran Lebar sungai dapat dilihat pada grafik dibawah ini :
Gambar 5. Grafik Lebar Sungai
Dalam praktikum pengukuran lebar sungai diperoleh data sebagai berikut, sungai Kejajar (4 m), Garung (19 m), Prigi (40 m), Mandiraja (31 m), dan Kembangan (40 m). Lebar sungai pada sungai serayu dari hilir ke hulu memiliki perbedaan, semakin kehilir lebar sungainya semakin besar dibandingkan pada bagian hulu. Dari data diatas dapat dilihat bahwa Prigi dan Kembangan mempunyai lebar sungai yang lebih lebar dibandingkan dengan Sungai yang lainnya. Sedangkan lebar sungai yang paling kecil terdapat pada sungai Kejajar yaitu 4m, ini menunjukkan sungai kejajar memiliki lebar dibawah batas minimum karena batas minimum lebar sungai adalah 5m (Maryono,2009).   Hal ini mungkin disebabkan oleh bentuk topografi, substrat dasar, riparian vegetation, erosi dan arus sungai yang membawa endapan dari dasar sungai tersebut(Ewuise, 1990).




4.2.6    Kedalaman
Hasil dari pengukuran Kedalaman dapat dilihat pada grafik dibawah ini :
Gambar 6. Grafik Kedalaman Sungai

Dari grafik diatas dapat dilihat bahwa Sungai Prigi memiliki kedalaman paling tinggi yaitu  1,18 m dan Sungai kembangan memiliki kedalaman paling rendah yaitu 0,3 m ,meskipun demikian kedalaman sungai Kembangan masih diatas batas minimum kedalaman sunga. Kedalaman di sungai serayu pada setiap stasiun bervariasi, perbedaan tersebut disebabkan oleh adanya perbedaan suatu substrat dasar, kecepatan arus dan topografi dari sungai tersebut (Hawkins, 1979).








4.2.7   Kejernihan air
Hasil dari pengukuran Kejernihan air dapat dilihat pada grafik dibawah ini :
Gambar 7. Grafik Kejernihan Air
Dari pangamatan tingkat kejernihan air yang dilakukan disepanjang daerah aliran sungai (DAS) Serayu, telah diperoleh data sebagai berikut: sungai Kejajar (70 cm), Garung (65,5 cm), Prigi (21,5 cm), Mandiraja (12,5 cm), dan Kembangan (6,5 cm). Dari data tersebut sungai Kejajar yang letaknya berada dihulu sungai mempunyai tingkat kecerahan yang tinggi sebesar 70 cm dibandingkan dengan sungai yang berada dihilir sungai seperti sungai Kembangan yang memiliki tingkat kecerahan air yang hanya 8 cm. Ini disebabkan Kecepatan arus yang ada pada Hulu Sungai lebih rendah dibandingkan dengan hilir sungai dan kandungan substrat dihulu sungai lebih sedikit karena sudah terbawa ke hilir sungai. Hal ini sesuai dengan pustaka yang didapat bahwa Kecerahan perairan sangat dipengaruhi oleh kecepatan arus terhadap kadar O2 terlarut, juga  disebabkan oleh kandungan substrat dasar yang berupa lumpur, partikel yang mengendap (Odum,1996).



4.2.8   Substrat Dasar
Hasil dari pengukuran Substrat dasar dapat dilihat pada Tabel dibawah ini :

Tabel 3. Substrat Dasar di DAS Serayu
No.
Stasiun Pengamatan
Substrat Dasar
1
Kejajar
Batu dan Kerikil
2
Garung
Batu dan Kerikil
3
Prigi
Batu dan Kerikil
4
Mandiraja
Batu dan Pasir
5
Kembangan
Batu dan Kerikil

Sungai Serayu substratnya berbeda-beda di setiap stasiun. Substrat dasarnya yaitu di Mandiraja: batu dan pasir, Kijajar: batu besar dan Garung: kerikil. Dari hasil pengamatan tersebut dapat dilihat bahwa sungai pada daerah hilir substat dasrarnya didominasi oleh lumpur dan pasir. Sedangkan pada daerah hulu substrat dasaranya didominasi oleh batu cadas, batu kerikil dan pasir.( Hawkins,1979)
4.2.9   Konduktivitas      
Hasil dari pengukuran Konduktivitas dapat dilihat pada grafik dibawah ini :
Gambar 9. Grafik konduktivitas
Dalam praktikum pengukuran konduktivitas dari air sungai diperoleh data sebagai berikut: Sungai Kejajar (26,6 µmhos), Garung (26,6 µmhos), Prigi (26,6 µmhos), Mandiraja (26,6 µmhos), dan Kembangan (26,6 µmhos). Dari Data tersebut dapat dilihat bahwa konduktivitas air dari daerah aliran sungai (DAS) Serayu berada dibawah 400 µmhos yang berarti perairan sungai Serayu baik jika digunakan oleh makhluk hidup untuk tempat tinggal bagi organisme akuatik dan dikonsumsi oleh makhluk hidup lainnya.
4.2.10    Skor Fisik Habitat
Hasil dari pengukuran Skor Fisik Habitat dapat dilihat pada grafik dibawah ini :
Gambar 10. Grafik Skor Fisik Habitat
Kondisi fisik habitat di bagian hulu seperti Kembangan, Mandiraja, Garung dan Kejajar sesuai kriteria penilaian kondisi fisik habitat menurut Barbour and Stribling yaitu sub optimal. Berarti daerah hulu sungai Serayu tersebut memiliki organisme akuatik yang bervariasi, baik kondisi lingkungan sekitarnya bagi kehidupan organisme akuatik dan organisme-organisme lainnya. Sedangkan pada daerah hilir seperti sesuai kriteria penilaian kondisi fisik habitat tabel Barbour dan Stribling yaitu marginal. Dari kriteria tersebut memiliki arti bahwa kehidupan organisme didaerah hilir sungai Serayu tidak begitu bervariasi jika dibandingkan dengan daerah hilir. Dari data yang diperoleh sungai Garung adalah sungai yang memiliki skor fisik habitat paling tinggi yaitu 60 dan sungai Mandiraja adalah sungai yang memiliki skor habitat paling rendah yaitu 45.
3.3.11    Kecepatan Arus
Hasil dari pengukuran Kecepatan arus dapat dilihat pada grafik dibawah ini :
Gambar 11. Grafik Kecepatan Arus
Kecepatan arus dihilir lebih tinggi dibandingkan dengan kecepatan arus pada hulu sungai. Dari grafik diatas dapat dilihat bahwa Sugai kembangan memiliki kecepatan arus paling tinggi sebesar 0,966 m/s,dan sungai Kejajar memiliki kecepatan arus sebesar 0,27 m/s. Ini dipengaruhi oleh kedalaman dan keleburan yang dimiliki oleh sungai.Hal tersebut sesuai dengan pustaka yang didapat bahwa Semakin dalam suatu perairan maka kecepatan arusnya semakin berkurang(Siregar,2004).






V.  KESIMPULAN DAN SARAN
5.1  Kesimpulan
Berdasarkan dari hasil pengamatan parameter Fisik-Kimia disungai maka dapat diambil kesimpulan sebagai berikut:
1.        Pola perubahan dari hulu ke hilir sungai mengalami perubahan yang bervariasi sesuai dengan keadaan topografi dari sungai tersebut.
2.        Keadaan sungai Serayu pada saat ini baik bagi kehidupan organisme akuatik dan organisme lainnya yang hidup disepanjang aliran sungai (DAS) Serayu.
5.2     Saran
Dimohon kedepannya praktikum ini tetap berjalan agar kita dapat memantau perubahan-perubahan yang terjadi






















DAFTAR PUSTAKA
Arifin, S., 1995, Menanggulangi Penyakit ikan dengan Imunisasi Maternal, Majalah Primadona, Edisi Nopember
Sary, 2006. Bahan Kuliah Manajemen Kualitas Air. Politehnik vedca. Cianjur
Hawkins, H.A.1979. Invertebrates an Indikator Of River Water Quality. In James, A. And L. Erison, ED. Biology Indikator Of Water Quality. Jon Willey Sons, Toronto.
Irwan, Zoer’aini Djamal. 1992. Prinsip-prinsip Ekologi dan Organisasi Ekosistem Komunitas dan Lingkungan. Bandung : Bumi Aksara.
Nyabakken, James W. 1992. Biologi Laut Suatu Pendekatan Ekologi. PT Gramedia Pustaka Utama: Jakarta.
Barus, 2002. Biologi Laut Suatu Pendekatan Ekologis. Jakarta:  PT. Gramedia, Hal 459
Odum, P. E. 1971. Fundamental of Ecology. W. B. Sanders Company and Toppan Company Ltd. London.
Odum, T. Howard. 1992. Ekologi System. Gajah Mada University Press. Rajawali. Yogyakarta.
Odum, E.P 1998. Dasar Ekologi. (terjemahan) edisi 3. Gajah Mada Univ. Press Yogyakarta.
Odum, E.P.1996. Dasar-Dasar Ekologi. Diterjemahkan oleh Thahmosamingan. Yogyakarta: Gadjah Mada Press.
Siregar, A. S. Toni, P. S. Setijanto. 2001. Studi Ekologi Fauna Benthik (Macrobrachidium) di Sungai Banjaran, Pelus dan Logawa, Kabupaten Banyumas. Biosfera vol. 18 No 1.
Barus, T. A. 2002. Pengantar Limnologi. Universitas Sumatra Utara. Medan.
Effendi,2003.Telaah Kualitas Air.Kanisius.Yogyakarta.


Salmin. 2000. Kadar Oksigen Terlarut di Perairan Sungai Dadap, Goba, Muara Karang dan Teluk Banten. Dalam : Foraminifera Sebagai Bioindikator Pencemaran, Hasil Studi di Perairan Estuarin Sungai Dadap, Tangerang (Djoko P. Praseno, Rositasari dan S. Hadi Riyono, eds.) P3O - LIPI hal 42 – 46.
Hadiatni, R.P. Eva. C dan Edi. S. 2001. Simulasi Pembuangan Limbah Organik Terhadap Konsentrasi Oksigen Terlarut di Sepanjang Aliran Sungai. Jurnal Teknologi Industri dan Informasi.
Donie, S. 2002. Prilaku bertani masyarakat Dieng, kelestarian daerah aliran sungai dan solusinya. hlm. 121-132 dalam Prosiding Ekspose Hasil Penelitan dan Pengembangan Teknologi Pengelolaan Daerah Aliran Sungai. Wonosobo, 9 September 2002.
Arifin, S., 1995, Menanggulangi Penyakit ikan dengan Imunisasi Maternal, Majalah Primadona, Edisi Nopember
Hutagalung RA. 2010. Ekologi Dasar. Jakarta. Hlm. 13-15
Asdak, 2007. Hidrologi Dan Pengelolaan Daerah Aliran Sungai. Yogyakarta:  Gadjah Mada University Press
Ewusie, J.K.  1990.  Pengantar  Ekologi  Tropika (terjemahan). ITB Bandung: Bandung.
Mackereth, F.J.H., Heron, J and talling, J.F. 1989. Water  analysis. Fresh-water Biological Association, Cumbria, UK. 120 P.
Rayuni, Safitri. 2008. Kualitas Air Bersih. www.safitrirayuni.blogspot.com .
Diakses 15 Desember 2012.






LAMPIRAN
Tabel 1. Tabel Pengukuran BOD
Stasiun
BOD
BOD
DO
BOD0
BOD5
Kejajar
4,4
7
5
0,8
Garung
2,6
4,8
2,6
1
prigi
5,4
6,4
3,6
0,4
Mandiraja
6,6
7,2
4,4
6,53
Kembangan
6,7
2,6
5,4
4,533
Blanko
 -
7,6
6,4
 -