TUGAS TERSTRUKTUR
EKOLOGI PERAIRAN
‘’Sungai Banjaran’’
Disusun oleh :
Rini Puji Lestari (H1K011001)
KEMENTERIAN
PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN
UNIVERSITAS
JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS
SAINS DAN TEKNIK
JURUSAN
PERIKANAN DAN KELAUTAN
PURWOKERTO
2012
BAB
I
PENDAHULUAN
1.1.
Latar
Belakang
Indonesia merupakan negara dengan
wilayah perairan yang luas. Salah satunya adalah perairan air tawar. Perairan
air tawar digolongkan menjadi air tenang dan mengalir. Perairan yang termasuk
ekosistem air mengalir adalah sungai. Sungai merupakan salah satu sumber
daya alam yang dimanfaatkan manusia untuk kesejahteraan hidupnya.
Makrozoobentos merupakan salah satu kelompok terpenting dalam ekosistem
perairan sehubungan dengan peranannya sebagai organisme kunci dalam jaring
makanan. Selain itu tingkat keanekaragaman yang terdapat di
lingkungan perairan dapat digunakan sebagai indikator pencemaran
Dengan adanya
kelompok bentos yang hidup menetap (sesile) dan daya adaptasi bervariasi
terhadap kondisi lingkungan, membuat hewan bentos seringkali digunakan sebagai
petunjuk bagi penilaian kualitas air. Makrobentos memiliki peranan ekologis dan struktur
spesifik dihubungkan dengan makrofita air yang merupakan materi autochthon.
Karakteristik dari masing-masing bagian makrofita akuatik ini bervariasi,
sehingga membentuk substratum dinamis yang komplek yang membantu pembentukan
interaksi-interaksi makroinvertebrata terhadap kepadatan dan keragamannya
sebagai sumber energi rantai makanan pada perairan akuatik.
Sungai
adalah salah satu ekosistem perairan yang dipengaruhi oleh banyak faktor, baik
oleh aktivitas alam maupun aktivitas manusia di Daerah Aliran Sungai (DAS).
Sungai merupakan jaringan alur-alur pada permukaan bumi yang terbentuk secara
alamiah, mulai dari bentuk kecil di bagian hulu sampai besar di bagian hilir.
Air hujan yang jatuh diatas permukaan bumu dalam perjalanannya sebagian kecil
menguap dan sebagian besar mengalir dalam bentuk-bentuk kecil kemudian menjadi
alur sedang seterusnya mengumpul menjadi satu alur besar atau utama Dengan
demikian dapat dikatakan sungai berfungsi menampung curah hujan dan
mengalirkannya ke laut. (Loebis et al.,1993,hlm:
3)
Sungai Banjaran adalah salah satu sungai yang ada di Kabupaten Banyumas, tepatnya berada di Desa Kebumen Kecamatan Baturraden Purwokerto. Sungai Banjaran merupakan anak sungai Logawa yang
mengalir dari arah utara ke arah selatan dan bermuara pada sungai Serayu di
daerah Patikraja. Sungai Banjaran memiliki luas DAS kira-kira 47.16 km2. DAS
Banjaran terletak di Kabupaten Banyumas yang meliputi enam Kecamatan yaitu
Kecamatan Baturaden, Kedungbanteng, Purwokerto Utara, Purwokerto Barat,
Purwokerto Selatan, Purwokerto Timur, dan Patikraja.
Gb.1
Sungai Banjaran
Sungai Banjaran terletak
di Global
Positioning System (GPS) yaitu :
Last update 6 oktober 2012,jam 13.25 wib
Lokasi :
Desa kebumen
Sungai :
Banjaran
Longtitude :
109⁰13’15.765” E
Latitud :
7⁰ 22’02.902” S
Accurasy :
228,6 m
1.2 Tujuan
Dalam melakukan praktikum pengambilan sampel
makrobentik bertujuan untuk :
·
Mengetahui spesies yang ada pada sungai
banjaran.
·
Mengetahui keragaman biota di perairan
Sungai Banjaran.
·
Mengidenifikasi jenis-jenis bentik yang
ada di Sungai Banjaran.
BAB II
CARA KERJA
2.1 Alat dan Bahan
2.1.1.
Alat
Alat
yang digunakan pada praktikum kali ini adalah planktonet, jala
surber, termometer, GPS, saringan, senter, ember, botol film, emergency lamp,
tali rafia, plastik hitam dan putih (1kg).
2.1.2.
Bahan
Bahan yang digunakan pada praktikum kali ini adalah
formalin 10%.
2.2.
Metode
2.2.1.
Drifting
Salah satu metode yang kami gunakan
untuk mengambil sampel adalah drifting. Drifting adalah metode dalam
pengambilan sampel makrobentos (bentik). Dimana metode ini menggunakan alat
yaitu jala surber. Jala ini diletakkan di sembarang tempat selama satu jam dan
melawan arus. Di bagian ujung jala surber ini di letakkan beban seperti batu
untuk menjaga aga jala surber tetap kokoh dan tidah terbawa arus sungai.
Makrobentos yang didapat dimasukkan ke botol film dan diberi formalin 10% serta
diberi label.
BAB
III
HASIL
DAN PEMBAHASAN
3.1.
Hasil
Tabel
1 Drifting.
No.
|
Bentik (Ordo)
|
Waktu
|
Jumlah
|
|||
14.00-15.00
|
17.30-18.30
|
21.30-22.30
|
04.00-05.00
|
|||
1.
|
Diptera
|
Chironomidae
|
1
|
|||
Dolichopodidae
|
1
|
|||||
Athericidae
|
1
|
|||||
2.
|
Trichoptera
|
Rhyacophilidae
|
2
|
|||
Rhyacophilidae
|
8
|
|||||
Rhyacophilidae
|
1
|
|||||
3.
|
Hemiptera
|
Pleidae
|
1
|
|||
4.
|
Plecoptera
|
perlidae
|
2
|
|||
Baetidae
|
||||||
3.2.
Pembahasan
Beberapa bentik yang didapat di Sungai
banjaran adalah Baetidae, lepidoptera, Heptageniidae, Leptophlebiidae, perlidae dan ephemerellidae. Tetapi
bentik yang mendominasi di sungai banjaran adalah Ceratopogonidae
, Baetidae dan Rhyacophilidae. Pengambilan bentik ini dilakukan dengan metode drifting. Bentik-bentik
itu didapat dari hasil metode drifting pukul 15.00, 18.30 dan 22.30.
Ø Baetidae
Klasifikasi dari
Baetidae ini adalah :
Kerajaan : Animalia
Filum :
Arthropoda
Kelas :
Insecta
Order :
Ephemeroptera
Subordo : Schistonota
Superfamili :
Baetoidea
Keluarga : Baetidae
spesies yang berbeda muncul pada waktu
yang berbeda sepanjang tahun, dari Agustus sampai Mei, sehingga bisa ada
beberapa generasi nimfa baetid hidup di air bersamaan Cloeon fluviatile,
terjadi di sungai musiman di Northern Territory. pengeringan kemudian
berkembang dengan cepat dalam empat minggu ketika innundated. nimfa Baetid terdapat pada hampir semua
habitat air tawar, termasuk zona riffle cepat mengalir dari sungai ke
slackwaters sungai,, billabongs lahan basah dan bendungan pertanian, tetapi
mereka paling beragam dalam dingin, air mengalir. Anakan biasanya ditemukan di
dekat atau di air tumbuhan. Nimfa Baetid mengikis ganggang dan
detritus halus dari batuan terendam, kayu dan tumbuhan.
Nimfa adalah
perenang yang kuat dan bergerak dengan gerakan yang cepat naik dan turun dari
perut mereka. Baetidae memiliki hypognathous kepala, kecuali untuk Platybaetis
yang memiliki kepala prognathous , Antena lebih lama daripada lebar kepala,
biasanya asalkan kepala dan dada dikombinasikan,efisien dengan belang-belang
pewarna tubuh, toraks biasanya sangat berpunuk, oval untuk melingkar di
penampang, kecuali Platybaetis yang dorsoventrally diratakan belakang
sayap bantalan ada atau tidak perut tanpa duri posterolateral,
seperti
piring insang pada segmen perut 1-7 atau 2-7, dalam margin filamen e.kor
dibatasi dengan setae, kecuali Platybaetis dan total
panjang dapat mencapai 1O mm.
Gb.2 baetidae
Ø Perlidae
Klasifikasi dari Perlidae ini
adalah :
Kerajaan : Animalia
Kelas : Insecta
Keluarga :
Perlidae
Ada 15
genera dengan total 72 jenis (Voshell). Mayoritas Perlidae ditemukan di Timur.
Panjang siklus hidup dapat antara 1 dan 3 tahun. Mereka dewasa muncul di musim
panas. Orang-orang dewasa yang sangat aktif dan diketahui tertarik pada sumber
cahaya. Mereka biasanya sangat sensitif terhadap perubahan lingkungan. Perlidae
adalah erosi biasanya lotic dan lentic. Mereka ditemukan dalam dingin, media
jelas bagi aliran besar dan kadang-kadang dalam yang lebih besar, sungai hangat
yang membawa lumpur . Mereka adalah crawler dan dapat bergerak cepat. Di
air yang tenang, tidak ada air bergerak lebih mereka insang sehingga mereka menggerakkan tubuh mereka atas dan ke
bawah untuk menjaga oksigen mengalir melalui insang. Mereka adalah
engulfer-predator. Mereka mengkonsumsi semua jenis invertebrata . Sangat muda larva adalah kolektor-pengumpul.
Gb.3 Perlidae
Ø Rhyacophilidae
Klasifikasi dari Rhyacophilidae ini
adalah :
Family : Rhyacophilidae
Rhyacophilidae
adalah sebuah keluarga dalam urutan serangga Trichoptera
. Larva dari keluarga ini hidup bebas dan spesies paling liar. Genus terbesar
adalah Rhyacophila, dengan dekat 500 spesies di seluruh belahan bumi
utara.
Gb.4
Rhyacophilidae
BAB IV
PENUTUP
4.1.
Kesimpulan
Banyak Mikrozoobentos
yang didapat di Sungai Banjaran. Bentik yang mendominasi di sungai ini adalah Ceratopogonidae
, Baetidae dan Rhyacophilidae. Sungai kejajar dapat
dijadikan bioindikator makrobentik. Banyak spesies yang hidup pada sungai kejajar dikarenakan kualitas air sungai
tersebut yang masih jernih. Tidak tercemar oleh udara di sungai tersebut.Kondisi
suatu perairan tidak hanya dipengaruhi oleh komponen bioik tetapi dipengaruhi
oleh faktor abiotik seperti suhu dan ph.
DAFTAR PUSTAKA
Pratiwi,
N, Krisanti, Nursiyamah, I. Maryanto, R. Ubaidillah, & W. A. Noerdjito.
2004. Panduan Pengukuran Kualitas Air
Sungai. Bogor: Institut Pertanian Bogor.
Appa-Awwa-Web. 1995. Standard Methods For The Examination Of Water And Wastewater, Edisi 19. American Public Health
Assocoation. Washington.D.C.
Nieto,Carolina.
2010.
Cladistic analysis of
the family Baetidae(Insecta: Ephemeroptera) in South America.
Systematic
Entomology Vol. 35( 512–525)
Odum, E. P. (1993). Dasar-Dasar
Ekologi. Edisi Ketiga. Yogyakarta : Gadjah Mada
University Press.
Jacobus, Luke.M, and Erick Fleek .D. 2010. Insecta,
Ephemeroptera, Ephemerellidae, Attenella
margarita (Needham, 1927): Southeastern range extension to North
Carolina, USA.Journal of species
lists and distribution. Volume 6. Hal 311-313.
http://sunsite.ualberta.ca/Projects/Aquatic_Invertebrates/?Page=42. (
Diaksespada Tanggal 14 0ktober 2012).
Stanislav I.
Melnitsky &Roman V. Deev. 2009. The
fine structure of sternal pheromone glands in the two caddisfly species from
the Rhyacophilidae and Limnephilidae families (Insecta : Trichoptera). Russian
Entomological Journal. Vol. 18(2). Hal 107-116
Tidak ada komentar:
Posting Komentar