KAJIAN
EKOSISTEM TELAGA DI DIENG UNTUK BUDIDAYA IKAN
I . PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Dataran Tinggi Dieng terletak
di Propinsi Jawa Tengah di mana sebagian wilayahnya termasuk dalam Kabupaten
Wonosobo (2 desa) dan sebagian lainnya dalam Kabupaten Banjarnegara (6 desa). Desa-desa
tersebut adalah Dieng Kulon, Kepakisan, Pekasiran, Bakal, Karang Tengah, dan
Kepucukan di wilayah kabupaten Banjarnegara. Dataran
dengan ketinggian 2.093 meter di atas permukaan laut ini, dulunya merupakan
sebuah gunung berapi yang sangat besar dan tinggi. Suatu saat gunung tersebut
meletus dengan dahsyat hingga melemparkan badan puncaknya ke daerah
sekelilingnya yang kini membentuk bukit-bukit besar maupun kecil, seperti
rangkaian perbukitan Gunung Perahu (2.565 m), Jurang Grawah (2.450 m), Gunung
Kendil (2.326 m), serta perbukitan lain, seperti Gunung Pakuwojo, Bismo
Pangonan dan Sipendu dengan ketinggian antara 2.245 m – 2.395 m. Perbukitan
kecil yang merupakan potongan atau irisan badan puncak gunung yang terlempar,
antara lain membentuk Gunung Naga Sari, Pangamun-amun, Gajah Mungkur serta
perbukitan dengan ketinggian antara 1.630 m – 2.154 m. Temperatur di dataran
dieng berkisar antara 15-20⁰C disiang hari dan 10⁰C dimalam
hari bahkan terkadang suhu dapat mencapai 0⁰C dipagi
hari.
Akibat letusan gunung yang
pernah terjadi di dataran tinggi dieng gunung dan bagian dalam Gunung Api Purba
Dieng yang tersisa, menjelma menjadi dataran luas yang dipenuhi bekas-bekas
kawah yang masih aktif mengepulkan asap belerang dan golakan lumpur panas yang
dapat kita saksikan hanya dalam jarak 0,5 – 1 meter. Sedangkan kawah-kawah yang
sudah mati, kini menjelma menjadi telaga-telaga serta sumur-sumur raksasa yang
dipenuhi air, dengan lubang permukaan antara 200 m2 dan kedalaman hingga 100 m.
Di area kawasan wisata yang bersuhu antara 15 – 20 derajat celsius di musim
kemarau dan 5 – 10 derajat celsius di musim hujan atau malam hari, terdapat 8
buah kawah vulkanik; Sikidang, Sileri, Sinila, Candradimuka, Timbang, Siglagah,
Sikendang, dan Sibanteng, 7 buah telaga; Warna, Pengilon, Swiwi, Balekambang,
Merdada, Dringo, dan Cebong serta 1 buah sumur raksasa; Jalatunda. Pengelolaan kawasan telaga dieng untuk
kegiatan budidaya ikan menjadi suatu pertimbangan. Sebagai usaha untuk
pemeliharaan dan pengembangan potensi perikanan didaerah pegunungan sekaligus
membantu dalam proses penyediaaan ikan yang menjadi komoditas konsumsi.
1.2 Tujuan
Praktikum ekologi perairan, Kajian Ekosistim Telaga di
Dieng untuk Budidaya Ikan ini bertujuan untuk
mengkaji ekosistem di Telaga Warna dan Telaga
Pengilon dapat dikembangkan sebagai lahan budidaya ikan ditinjau dari beberapa
aspek fisikokimia (DO
atau oksigen terlarut, temperatur, konduktivitas, pH)
II. TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Ekosistem
Ekositem merupakan hubungan timbal balik antara mahluk
hidup dengan lingkungannya. Ekosistem bisa
dikatakan juga suatu tatanan kesatuan secara utuh dan menyeluruh antara segenap
unsur lingkungan hidup yang saling memengaruhi karena Ekosistem merupakan
penggabungan dari setiap unit biosistem yang melibatkan interaksi timbal balik antara organisme dan
lingkungan fisik sehingga aliran energi menuju kepada suatu struktur biotik tertentu dan terjadi suatusiklus materi antara organisme dan anorganisme. Matahari sebagai sumber dari semua energi yang ada (Hutagalung, 2010).
Ekosistem air tawar digolongkan menjadi air tenang dan
air mengalir. Termasuk ekosistem air tenang adalah danau dan rawa dan yang
termasuk ekosistem air mengalir adalah sungai. Danau merupakan suatu badan air
yang menggenang dan luasnya mulai dari beberapa meter persegi hingga ratusan
meter persegi. Terdapat pembagian daerah berdasarkan penetrasi cahaya matahari
di danau. Daerah yang dapat ditembus cahaya matahari sehingga terjadi
fotosintesis disebut daerah fotik. Daerah yang tidak tertembus cahaya matahari
disebut daerah afotik. Perubahan temperatur juga terjadi di daerah danau yang
drastis atau termoklin. Termoklin memisahkan daerah yang hangat di atas dengan
daerah dingin di dasar. Komunitas tumbuhan dan hewan tersebar di danau sesuai
dengan kedalaman dan jaraknya dari tepi (Tansley, 1935).
2.2 Telaga
Dinamakan sebagai Telaga Warna dikarenakan telaganya
memiliki beberapa warna yang akan muncul bila dilihat dengan mata. Menurut para
pakar biota perairan, hal ini karena pengaruh warna lumut atau tumbuhan air
yang ada di dasar telaga. Warna yang paling dominan adalah hijau (Boy, 2008).
Pengamatan kandungan plankton
yang terdapat pada telaga warna, merupakan suatu pengamatan yang bertujuan
untuk mengetahui adanya pakan alami yang terdapat pada telaga untuk menunjang
kegiatan budidaya. plankton merupakan makanan alami organisme perairan. Fito
plankton merupakan produsen utama di perairan, sedangkan organisme konsumen
adalah zooplankton, larva, ikan, udang, kepiting dan sebagainya (Djarijah,1995)
Plankton adalah organisme yang berukuran kecil dan hidup terombang-ambing oleh
arus. Plankton terbagi menjadi 2 yaitu zooplankton (hidup sebagai hewan) dan
fitoplankton (sebagai tumbuhan). Zooplankton adalah hewan microorganisme,laut
yang planktonik sedangkan fitoplankton merupakan tumbuhan laut yang melayang
dan hanyut dalam laut serta dapat berfotosintesis (Nybakken,1992).
Ekosistem yang terdapat di
wilayah telaga warna di pegunungan dieng merupakan interaksi dari faktor
abiotik dan biotik di sekitar telaga, di antaranya faktor biotik yaitu tumbuhan
reparian vegetasion atau ntumbuhan tepi, plankton, beberapa jenis serangga, lumut,
ulat, cacing, burung, namun sangat jarang di temukan adanya ikan di wilayah
telaga. Selain itu faktor abiotik terdiri atas faktor fisika dan kimia dalam
hal ini sangat berperan terhadap kehidupan organisme yang ada di perairan
(James M, 1988).
2.3 Parameter Fisiko Kimia
2.3.1. Oksigen Terlarut (DO)
Oksigen terlarut
adalah gas oksigen yang terlarut dalam air yang berfungsi sebagai pengatur metabolisme tubuh
organisme untuk tumbuh dan berkembang biak. Sumber oksigen terlarut dalam air
berasal dari difusi oksigen yang terdapat di atmosfer, arus atau aliran air
melalui air hujan serta aktivitas fotosintesis oleh tumbuhan air dan
fitoplankton. Oksigen terlarut merupakan
faktor penting dalam suatu perairan. Oksigen terlarut menunjukan suatu tingkat
oksigen dalam air yang diakibatkan oleh unsur-unsur sedimen baik yang bersifat
mineral atau organik. Oksigen terlarut dalam air digunakan sebagai indikator
suatu organisme untuk bernafas atau oksigen (Asdak, 2007).
2.3.2. Konduktifitas
Daya hantar listrik (DHL) atau konduktifitas adalah
gambaran numeri dari kemampuan air untuk menghantarkan arus listrik. Satuan
dari konduktifitas adalah µmhos/cm. Konduktifitas atau daya hantar listrik
merupakan pertikel-partikel seperti sampah, perombakan zat organik dari plankton
yang mati dan tanah hasil dari erosi serta logam-logam berat yang masuk
diperairan (Sary, 2006). Menurut Asdak (2007), konduktifitas di bawah 400μs
kekayaan spesiesnya akan melimpah, tetapi jika perairan sungai konduktifitasnya
di atas 400μs maka kekayaan spesies tidak melimpah karena tidak kuat terhadap
konduktifitas tersebut.
2.3.3 Derajat Keasaman (pH)
pH berkaitan erat dengan
karbondioksida dan alkalinitas, semakin tinggi pH, semakin tinggi alkalinitas
dan semakin rendah kadar kandungan dioksida bebas (Mackereth et al, 1989). pH
merupakan tingkat derajat keasaman yang dimiliki setiap unsur, pH juga
berpengaruh terhadap setiap organisme, karena setiap organisme atau indivudu
memiliki ketentuan pada derajat keasaman (pH) berapa merka dapat hidup. Karena setiap
individu maupun spesies tertentu hanya dapat hidup pada toleransi pH tertentu. Pada suatu kegiatan budidaya derajat
keasaman yang ideal pada suatu perairan yaitu 7,2 sampai 8,5 (levianto, 1988).
Karena pada pH di bawah itu ikan akan sulit untuk hidup dan tumbuhan air mati
karena tidak dapat bertoleransi terhadap pH renda kecuali Chlamydomonas
acidophila masih dapat bertahan pada pH yang sangat rendah yaitu 1, dan
algae Euglena masih dapat bertahan hidup pada pH 1,6 (Haslam,
1995). Dengan
diketahuinya nilai pH, maka kita akan tahu apakah air tersebut sesuai atau
tidak untuk menunjang kehidupan ikan dan biota-biota air lainnya. Besaran pH
berkisar dari 0 (sangat asam) sampai dengan 14 (sangat basa/alkalis). Nilai pH
kurang dari 7 menunjukkan lingkungan yang asam sedangkan nilai pH diatas 7
menunjukkan lingkungan yang basa (alkalis) sedangkan pH = 7 disebut sebagai
netral. pH 1-6 (asam), pH 7 (netral) dan pH 8 - 14 (basa). Menurut Weich
(1980), perairan yang produktif itu berada pada kisaran pH 7,5-8,5.
2.3.4. Suhu
Suhu berpengaruh terhadap
ekosistem, karena suhu merupakan ketentuan yang diperlukan organisme untuk
hidup. setiap organismememiliki toleransi terhadap ketentuan pada suhu berapa
mereka dapat hidup. Menurut
Sucipto dan Eko (2005) menyatakan bahwa suhu mematikan (lethal) hampir untuk
semua spesies ikan bekisar 10-11ºC selama beberapa hari. Menurut Barus (2002),
kisaran suhu air yang baik dalam perairan dan kehidupan ikan yaitu berkisar
antara 23-32ºC.
III.
MATERI
DAN METODE
3.1 Materi
3.1.1
Alat
Alat yang digunakan pada
praktikum Kajian Ekosistem Telaga di Dieng untuk Budidaya adalah termometer, konduktivitimeter, pH meter, botol Winkler 250 ml, label,
pipet tetes, dan alat tulis.
3.1.2
Bahan
Bahan yang digunakan pada
praktikum kajian ekosistem telaga di Dieng untuk budidaya adalah MnSO4, KOH-KI, Larutan H2SO4,
Larutan Na2S2O3, indikator amilum dan sampel air Telaga Pegilon dan Warna.
3.2 Metode
3.2.1
Pengukuran DO
(Dissolved Oxygen)
Sampel air diambil menggunakan
botol wingkler sebanyak 250 ml tanpa ada gelembung. Larutan MnSO4, KOH-KI masing-masing 15 tetes, biarkan hingga
terbentuk endapan, tambahkan larutan H2SO4 ke dalam botol
kemudian dihomogenkan. Kemudian di ambil sebanyak 100 ml ke labu Erlenmeyer,
kemudian di titrasi denga larutan Na2S2O3
sampai larutan berwarna kuning muda, kemudian tambahkan amilum 3 tetes hingga
berwarna biru. Kemudian di titrasi kembali hingga warna biru hilang.
Rumus
perhitungannya :
DO =
Keterangan :
DO =
Oksigen terlarut (mg/l)
p = volume larutan Na2S2O3 (ml)
q = normalitas larutan (n)
8 = bobot setara larutan
3.2.2
Pengukuran
Temperatur
Pengukuran temperatur
dilakukan dengan cara mencelupkan termometer pada perairan telaga, kemudian tunggu sampai beberapa menit sampai pengukuran
pada termometer stabil dan tidak berubah-ubah, pengukuran ini dilakukan di tiga titik (pinggir, tengah, pinggir), lalu temperatur yang ketiga titik tersebut dirata-ratakan.
3.2.3
Pengukuran
Konduktivitas
Konduktivitas diukur dengan
menggunakan alat konduktivitimeter dengan cara mencelupkan sensor konduktivitimeter
kedalam air telaga. Kemudian hasil yang diperoleh dicatat.
3.2.4
Pengukuran
Derajat Keasaman (pH)
Dicelupkan kertas pH ke dalam sampel air telaga, perubahan warna yang terjadi pada kertas lakmus
kemudian disamakan dengan warna skala pH yang tercantum.
3.3 Waktu dan Tempat
Praktikum ini dilaksanakan
pada Sabtu, 8 Desember 2012, di Telaga Warna dan Telaga
Pengilon, Dieng, Wonosobo.
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1
Hasil
Hasil yang didapatkan
dalam praktikum “Kajian Ekosistem Telaga di Dieng Untuk Budidaya” yaitu sebagai
berikut :
Tabel 4.1.1 Faktor
Fisikokimia Telaga Warna dan Telaga Pengilon
|
Stasiun
|
DO
|
Temperatur
(˚C)
|
Konduktivitas
|
pH
|
|
Telaga
Warna
|
-
|
22
|
2300
|
3
|
|
Telaga Pengilon
|
6
|
19,7
|
169,1
|
7
|
4.2. PEMBAHASAN
4.2.1. DO (Dissolved Oxygen)
Hasil dari pengukuran DO dapat dilihat dari grafi
dibawah ini :
Gambar 1.
Grafik DO (Dissolved
Oxygen)
Dari grafik diatas diketahui bahwa
kadar oksigen terlarut pada Telaga
Warna adalah 0, dan
Telaga Pengilon adalah 6, Hal
tersebut menunjukan bahwa Telaga Warna Sangat kurang cocok
untuk hidup ikan, makrobenthos,
plankton dan organisme kecil lainnya, karena tidak tersedianya
oksigen dalam air yang dibutuh kan oleh ikan dan organisme kecil lainnya. Telaga Pengilon memiliki kadar DO 6, masih cocok
untuk tempat hidup ikan dan organisme kecil karena masih tersedianya oksigen
yang cukup. Oksigen terlarut dalam air digunakan
sebagai indikator suatu organisme untuk bernafas atau oksigen (Asdak,
2007).
4.2.2 Temperatur
Hasil dari pengukuran Temperatur dapat dilihat
dari grafi dibawah ini :
Gambar 2. Grafik Temperatur
Perairan
Dari grafik diatas dapat dilihat bahwa
Telaga Warna memiki temperatur 22oC, Hal tersebut
menekankan bahwa Telaga Warna Sangat kurang cocok untuk hidup ikan, makrobenthos, plankton dan organisme kecil
lainnya, karena ikan biasanya
lebih mampu mempertahankan keberlangsungan hidupnya pada perairan yang cukup
hangat. Substrat dasar dari Telaga Dieng merupakan
substrat yang berlumpur dan mengandung pasir. Menurut Effendi (2003),
algae dari filum Chlorophyta dan diatom
akan tumbuh dengan baik pada kisaran suhu berturut-turut 30 ± 35⁰C dan ikan akan tumbuh dengan baik pada kisaran suhu 20 ± 30⁰ C.
4.2.3. Konduktivitas
Hasil dari pengukuran Konduktivitas dapat dilihat
dari grafi dibawah ini :
Gambar 3. Grafik
konduktivitas
Dari grafik diatas dapat dilihat bahwa
nilai konduktivitas pada
Telaga Warna sebesar 2300µmhos, nilai tersebut telah melewati batas maksimum konduktivitas yaitu 400µmhos. Hal ini kemungkinan merupakan
faktor yang mempengaruhi timbulnya warna pada telaga di dieng. Dilihat dari kondisi yang sedemikian, maka untuk daerah Telaga di Dieng
memiliki potensi yang kecil untuk dilakukannya budidaya. Konduktivitas berkaitan dengan mineral yang terkandung dalam perairan
yang menyebabkan kekeruhan pada perairan. Pada telaga pengilon nilai konduktivitasnya sebesar 169,1µmhos, nilai konduktivitas tersebut menunjukan bahwa telaga pengilon masih cukup
berpotensi untuk dilakukannya budidaya. Faktor Konduktivitas merupakan jumlah total ion terlarut dalam perairan(Ewuise,1990).
4.2.4. Derajat Keasaman (pH)
Hasil dari pengukuran pH dapat dilihat dari grafi
dibawah ini :
Gambar 4. Grafik Derajat
Keasaman (pH)
Berdasarkan grafik diatas dapat dilihat bahwa Telaga Warna memiliki derajat keasaman
air (pH) yaitu 3, yang berarti di perairan tersebut memiliki sifat
asam dan tidak aman bagi biota perairan. Menurut Susanto (2009) estándar baku
pH adalah 6 – 9. Hal ini juga
membuktikan bahwa di Telaga tersebut tidak banyak dijumpai spesies ikan.
Berdasarkan batas toleransi biota perairan tidak dapat bertahan pada kondisi pH
yang asam. Nilai pH yang ditoleransi ikan nila berkisar
antara 5 hingga 11, batasan pH yang cocok untuk kegiatan budidaya
adalah berkisar 7,2 sampai 8,5 (levianto, 1988). Seperti halnya dengan Telaga
Pengilon yang memiliki derajat keasaman air (pH) yaitu 7, yang menunjukan bahwa
perairan tersebut masih dalam kondisi ideal, dan dapat dijadikan tempat
pembudidayaan ikan. Beberapa faktor yang memengaruhi pH
perairan diantaranya aktivitas fotosintesis, suhu, dan terdapatnya anion dan kation. (Kottelat,1993).
V. KESIMPULAN
DAN SARAN
5.1 Kesimpulan
Berdasarkan
hasil yang diperoleh dapat disimpulkan bahwa:
1. Dilihat dari fisikokimia (DO atau oksigen terlarut, temperatur, konduktivitas, pH) Telaga Warna
tidak layak untuk tempat hidup ikan
atau Makrobenthos, plankton dan organisme kecil lainnya
yang terdapat
di Telaga Pengilon sebagai pakan alami atau rantai makanan dari ikan.
2. Telaga Warna
Dieng mempunyai peluang kecil untuk mengembangkan usaha budidaya perikanan
namun di Telaga Pengilon masih memungkinkan untuk tempat budidaya.
5.2 Saran
Semoga
praktikum ini dapat ditunjang dengan pemberian materi yang jelas agar praktikum
dapat menambah pengetahuan.
DAFTAR PUSTAKA
Asdak, 2007. Hidrologi
Dan Pengelolaan Daerah Aliran Sungai. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.
Ewusie, J.K. 1990. Pengantar
Ekologi Tropika (terjemahan). ITB Bandung :
Bandung .
Kottelat, M.; A.J. Whitten; S.N.
Kartikasari & S. Wirjoatmodjo. 1993. Freshwater
Fishes of Western Indonesia and Sulawesi. Periplus, Jakarta.
Hawkins, H.A.1979. Invertebrates an
Indikator Of River Water Quality. In James, A. And L. Erison, ED. Biology
Indikator Of Water Quality. Jon Willey Sons, Toronto.
Odum,
E.P.1996. Dasar-Dasar Ekologi. Diterjemahkan oleh Thahmosamingan.
Yogyakarta: Gadjah Mada Press.
Susanto,
Byna, Krisdianto, Hasrul Satria Nur. 2009. Kajian
Kualitas Air Sungai yang Melewati Kecamatan Gambut dan Aluh aluh Kalimantan
Selatan. Bioscientiae. Vol:6. No:1. Hal:40-50.
Daelami .2001.
Studi kualitas sungai meggunakan makrozoobentos sebagai indicator pencemaran
lingkungan perairan. Tesis S2. Program pasca sarjana institut pertanian Bogor.
Hutagalung RA. 2010. Ekologi
Dasar. Jakarta. Hlm. 13-15.
Microbial and
Meiofaunal Populations in Sediments of Natural Coastal Hydrocarbon Seep. Journal of Marine Science.
Effendi, H. 2003. Telaan Kualitas Air: Bagi Pengelolaan Sumber Daya dan
Lingkungan Perairan. Kanisus. Yogyakarta.
Koesbiono.1979.
Ekologi Perairan. Bogor. IPB.
Karwani, 2006.
Manajemen Kualitas Air. Politehnik vedca. Cianjur.
Sary, 2006. Bahan
Kuliah Manajemen Kualitas Air. Politehnik vedca. Cianjur.
Syahri,
Muhammad.2008. Ekosistem Perairan. Tiga Serangkai: Surakarta.
Nybakkenn.1998.
Biologi Suatu Pendekatan Ekologi. Jakarta : Gramedia.
Siregar, A. S.
Toni, P. S. Setijanto. 2001. Studi Ekologi Fauna Benthik (Macrobrachidium) di Sungai
Banjaran, Pelus dan Logawa, Kabupaten Banyumas. Biosfera vol. 18 No 1.
Barus, T. A. 2002. Pengantar Limnologi.
Universitas Sumatra Utara. Medan.
Effendi,2003.Telaah Kualitas Air.Kanisius.Yogyakarta.
Salmin. 2000. Kadar Oksigen Terlarut di
Perairan Sungai Dadap, Goba, Muara Karang dan Teluk Banten. Dalam : Foraminifera Sebagai
Bioindikator Pencemaran, Hasil Studi di
Perairan Estuarin Sungai Dadap, Tangerang (Djoko P. Praseno, Rositasari dan S.
Hadi Riyono, eds.) P3O -
LIPI hal 42 – 46.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar