Sabtu, 29 Desember 2012


KAJIAN EKOSISTEM TELAGA DI DIENG UNTUK BUDIDAYA IKAN
 I . PENDAHULUAN
1.1     Latar Belakang
Dataran Tinggi Dieng terletak di Propinsi Jawa Tengah di mana sebagian wilayahnya termasuk dalam Kabupaten Wonosobo (2 desa) dan sebagian lainnya dalam Kabupaten Banjarnegara (6 desa). Desa-desa tersebut adalah Dieng Kulon, Kepakisan, Pekasiran, Bakal, Karang Tengah, dan Kepucukan di wilayah kabupaten Banjarnegara. Dataran dengan ketinggian 2.093 meter di atas permukaan laut ini, dulunya merupakan sebuah gunung berapi yang sangat besar dan tinggi. Suatu saat gunung tersebut meletus dengan dahsyat hingga melemparkan badan puncaknya ke daerah sekelilingnya yang kini membentuk bukit-bukit besar maupun kecil, seperti rangkaian perbukitan Gunung Perahu (2.565 m), Jurang Grawah (2.450 m), Gunung Kendil (2.326 m), serta perbukitan lain, seperti Gunung Pakuwojo, Bismo Pangonan dan Sipendu dengan ketinggian antara 2.245 m – 2.395 m. Perbukitan kecil yang merupakan potongan atau irisan badan puncak gunung yang terlempar, antara lain membentuk Gunung Naga Sari, Pangamun-amun, Gajah Mungkur serta perbukitan dengan ketinggian antara 1.630 m – 2.154 m. Temperatur di dataran dieng berkisar antara 15-20C disiang hari dan 10C dimalam hari bahkan terkadang suhu dapat mencapai 0C dipagi hari.
Akibat letusan gunung yang pernah terjadi di dataran tinggi dieng gunung dan bagian dalam Gunung Api Purba Dieng yang tersisa, menjelma menjadi dataran luas yang dipenuhi bekas-bekas kawah yang masih aktif mengepulkan asap belerang dan golakan lumpur panas yang dapat kita saksikan hanya dalam jarak 0,5 – 1 meter. Sedangkan kawah-kawah yang sudah mati, kini menjelma menjadi telaga-telaga serta sumur-sumur raksasa yang dipenuhi air, dengan lubang permukaan antara 200 m2 dan kedalaman hingga 100 m. Di area kawasan wisata yang bersuhu antara 15 – 20 derajat celsius di musim kemarau dan 5 – 10 derajat celsius di musim hujan atau malam hari, terdapat 8 buah kawah vulkanik; Sikidang, Sileri, Sinila, Candradimuka, Timbang, Siglagah, Sikendang, dan Sibanteng, 7 buah telaga; Warna, Pengilon, Swiwi, Balekambang, Merdada, Dringo, dan Cebong serta 1 buah sumur raksasa; Jalatunda. Pengelolaan kawasan telaga dieng untuk kegiatan budidaya ikan menjadi suatu pertimbangan. Sebagai usaha untuk pemeliharaan dan pengembangan potensi perikanan didaerah pegunungan sekaligus membantu dalam proses penyediaaan ikan yang menjadi komoditas konsumsi.
1.2       Tujuan
Praktikum ekologi perairan, Kajian Ekosistim Telaga di Dieng untuk Budidaya Ikan ini bertujuan untuk mengkaji ekosistem di Telaga Warna dan Telaga Pengilon dapat dikembangkan sebagai lahan budidaya ikan ditinjau dari beberapa aspek fisikokimia (DO atau oksigen terlarut, temperatur, konduktivitas, pH)











II.  TINJAUAN PUSTAKA
2.1.   Ekosistem
Ekositem merupakan hubungan timbal balik antara mahluk hidup dengan lingkungannya. Ekosistem bisa dikatakan juga suatu tatanan kesatuan secara utuh dan menyeluruh antara segenap unsur lingkungan hidup yang saling memengaruhi karena Ekosistem merupakan penggabungan dari setiap unit biosistem yang melibatkan interaksi timbal balik antara organisme dan lingkungan fisik sehingga aliran energi menuju kepada suatu struktur biotik tertentu dan terjadi suatusiklus materi antara organisme dan anorganisme. Matahari sebagai sumber dari semua energi yang ada (Hutagalung, 2010).
Ekosistem air tawar digolongkan menjadi air tenang dan air mengalir. Termasuk ekosistem air tenang adalah danau dan rawa dan yang termasuk ekosistem air mengalir adalah sungai. Danau merupakan suatu badan air yang menggenang dan luasnya mulai dari beberapa meter persegi hingga ratusan meter persegi. Terdapat pembagian daerah berdasarkan penetrasi cahaya matahari di danau. Daerah yang dapat ditembus cahaya matahari sehingga terjadi fotosintesis disebut daerah fotik. Daerah yang tidak tertembus cahaya matahari disebut daerah afotik. Perubahan temperatur juga terjadi di daerah danau yang drastis atau termoklin. Termoklin memisahkan daerah yang hangat di atas dengan daerah dingin di dasar. Komunitas tumbuhan dan hewan tersebar di danau sesuai dengan kedalaman dan jaraknya dari tepi (Tansley, 1935).
2.2    Telaga 
Dinamakan sebagai Telaga Warna dikarenakan telaganya memiliki beberapa warna yang akan muncul bila dilihat dengan mata. Menurut para pakar biota perairan, hal ini karena pengaruh warna lumut atau tumbuhan air yang ada di dasar telaga. Warna yang paling dominan adalah hijau (Boy, 2008).
Pengamatan kandungan plankton yang terdapat pada telaga warna, merupakan suatu pengamatan yang bertujuan untuk mengetahui adanya pakan alami yang terdapat pada telaga untuk menunjang kegiatan budidaya. plankton merupakan makanan alami organisme perairan. Fito plankton merupakan produsen utama di perairan, sedangkan organisme konsumen adalah zooplankton, larva, ikan, udang, kepiting dan sebagainya (Djarijah,1995) Plankton adalah organisme yang berukuran kecil dan hidup terombang-ambing oleh arus. Plankton terbagi menjadi 2 yaitu zooplankton (hidup sebagai hewan) dan fitoplankton (sebagai tumbuhan). Zooplankton adalah hewan microorganisme,laut yang planktonik sedangkan fitoplankton merupakan tumbuhan laut yang melayang dan hanyut dalam laut serta dapat berfotosintesis (Nybakken,1992).
Ekosistem yang terdapat di wilayah telaga warna di pegunungan dieng merupakan interaksi dari faktor abiotik dan biotik di sekitar telaga, di antaranya faktor biotik yaitu tumbuhan reparian vegetasion atau ntumbuhan tepi, plankton, beberapa jenis serangga, lumut, ulat, cacing, burung, namun sangat jarang di temukan adanya ikan di wilayah telaga. Selain itu faktor abiotik terdiri atas faktor fisika dan kimia dalam hal ini sangat berperan terhadap kehidupan organisme yang ada di perairan (James M, 1988).
2.3 Parameter Fisiko Kimia
2.3.1. Oksigen Terlarut (DO)
Oksigen terlarut adalah gas oksigen yang terlarut dalam air yang berfungsi sebagai pengatur metabolisme tubuh organisme untuk tumbuh dan berkembang biak. Sumber oksigen terlarut dalam air berasal dari difusi oksigen yang terdapat di atmosfer, arus atau aliran air melalui air hujan serta aktivitas fotosintesis oleh tumbuhan air dan fitoplankton. Oksigen terlarut merupakan faktor penting dalam suatu perairan. Oksigen terlarut menunjukan suatu tingkat oksigen dalam air yang diakibatkan oleh unsur-unsur sedimen baik yang bersifat mineral atau organik. Oksigen terlarut dalam air digunakan sebagai indikator suatu organisme untuk bernafas atau oksigen (Asdak, 2007). 
2.3.2.   Konduktifitas
Daya hantar listrik (DHL) atau konduktifitas adalah gambaran numeri dari kemampuan air untuk menghantarkan arus listrik. Satuan dari konduktifitas adalah µmhos/cm. Konduktifitas atau daya hantar listrik merupakan pertikel-partikel seperti sampah, perombakan zat organik dari plankton yang mati dan tanah hasil dari erosi serta logam-logam berat yang masuk diperairan (Sary, 2006). Menurut Asdak (2007), konduktifitas di bawah 400μs kekayaan spesiesnya akan melimpah, tetapi jika perairan sungai konduktifitasnya di atas 400μs maka kekayaan spesies tidak melimpah karena tidak kuat terhadap konduktifitas tersebut.
2.3.3 Derajat Keasaman (pH)
pH berkaitan erat dengan karbondioksida dan alkalinitas, semakin tinggi pH, semakin tinggi alkalinitas dan semakin rendah kadar kandungan dioksida bebas (Mackereth et al, 1989). pH merupakan tingkat derajat keasaman yang dimiliki setiap unsur, pH juga berpengaruh terhadap setiap organisme, karena setiap organisme atau indivudu memiliki ketentuan pada derajat keasaman (pH) berapa merka dapat hidup. Karena setiap individu maupun spesies tertentu hanya dapat hidup pada toleransi pH tertentu. Pada suatu kegiatan budidaya derajat keasaman yang ideal pada suatu perairan yaitu 7,2 sampai 8,5 (levianto, 1988). Karena pada pH di bawah itu ikan akan sulit untuk hidup dan tumbuhan air mati karena tidak dapat bertoleransi terhadap pH renda kecuali Chlamydomonas acidophila masih dapat bertahan pada pH yang sangat rendah yaitu 1, dan algae Euglena masih dapat bertahan hidup pada pH 1,6 (Haslam, 1995).  Dengan diketahuinya nilai pH, maka kita akan tahu apakah air tersebut sesuai atau tidak untuk menunjang kehidupan ikan dan biota-biota air lainnya. Besaran pH berkisar dari 0 (sangat asam) sampai dengan 14 (sangat basa/alkalis). Nilai pH kurang dari 7 menunjukkan lingkungan yang asam sedangkan nilai pH diatas 7 menunjukkan lingkungan yang basa (alkalis) sedangkan pH = 7 disebut sebagai netral. pH 1-6 (asam), pH 7 (netral) dan pH 8 - 14 (basa). Menurut Weich (1980), perairan yang produktif itu berada pada kisaran pH 7,5-8,5.
2.3.4. Suhu
Suhu berpengaruh terhadap ekosistem, karena suhu merupakan ketentuan yang diperlukan organisme untuk hidup. setiap organismememiliki toleransi terhadap ketentuan pada suhu berapa mereka dapat hidup. Menurut Sucipto dan Eko (2005) menyatakan bahwa suhu mematikan (lethal) hampir untuk semua spesies ikan bekisar 10-11ºC selama beberapa hari. Menurut Barus (2002), kisaran suhu air yang baik dalam perairan dan kehidupan ikan yaitu berkisar antara 23-32ºC.












III.           MATERI DAN METODE
3.1    Materi
3.1.1        Alat
Alat yang digunakan pada praktikum Kajian Ekosistem Telaga di Dieng untuk Budidaya adalah termometer, konduktivitimeter, pH meter, botol Winkler 250 ml, label, pipet tetes, dan alat tulis.
3.1.2        Bahan
Bahan yang digunakan pada praktikum kajian ekosistem telaga di Dieng untuk budidaya adalah MnSO4, KOH-KI, Larutan H2SO4, Larutan Na2S2O3, indikator amilum dan sampel air Telaga Pegilon dan Warna.
3.2    Metode
3.2.1        Pengukuran DO (Dissolved Oxygen)
Sampel air diambil menggunakan botol wingkler sebanyak 250 ml tanpa ada gelembung. Larutan MnSO4, KOH-KI masing-masing 15 tetes, biarkan hingga terbentuk endapan, tambahkan larutan H2SO4 ke dalam botol kemudian dihomogenkan. Kemudian di ambil sebanyak 100 ml ke labu Erlenmeyer, kemudian di titrasi denga larutan Na2S2O3 sampai larutan berwarna kuning muda, kemudian tambahkan amilum 3 tetes hingga berwarna biru. Kemudian di titrasi kembali hingga warna biru hilang.
Rumus perhitungannya :
DO =
Keterangan :
DO    = Oksigen terlarut (mg/l)
p        = volume larutan Na2S2O3 (ml)
q        = normalitas larutan (n)
8        = bobot setara larutan
3.2.2        Pengukuran Temperatur
Pengukuran temperatur dilakukan dengan cara mencelupkan termometer pada perairan telaga, kemudian tunggu sampai beberapa menit sampai pengukuran pada termometer stabil dan tidak berubah-ubah, pengukuran ini dilakukan di tiga titik (pinggir, tengah, pinggir), lalu temperatur yang ketiga titik tersebut dirata-ratakan.
3.2.3        Pengukuran Konduktivitas
Konduktivitas diukur dengan menggunakan alat konduktivitimeter dengan cara mencelupkan sensor konduktivitimeter kedalam air telaga. Kemudian hasil yang diperoleh dicatat.
3.2.4        Pengukuran Derajat Keasaman (pH)
Dicelupkan kertas pH ke dalam sampel air telaga, perubahan warna yang terjadi pada kertas lakmus kemudian disamakan dengan warna skala pH yang tercantum.
3.3    Waktu dan Tempat
Praktikum ini dilaksanakan pada Sabtu, 8 Desember 2012, di Telaga Warna dan Telaga Pengilon, Dieng, Wonosobo.









IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil
Hasil yang didapatkan dalam praktikum “Kajian Ekosistem Telaga di Dieng Untuk Budidaya” yaitu sebagai berikut :
Tabel 4.1.1 Faktor Fisikokimia Telaga Warna dan Telaga Pengilon
Stasiun
DO
Temperatur (˚C)
Konduktivitas
pH
Telaga Warna
-
22
2300
3
Telaga Pengilon
6
19,7
169,1
7

4.2. PEMBAHASAN
4.2.1. DO (Dissolved Oxygen)
Hasil dari pengukuran DO dapat dilihat dari grafi dibawah ini :
Gambar 1. Grafik DO (Dissolved Oxygen)
Dari grafik diatas diketahui bahwa kadar oksigen terlarut pada Telaga Warna adalah 0, dan Telaga Pengilon adalah 6, Hal tersebut menunjukan bahwa Telaga Warna Sangat kurang cocok untuk hidup ikan, makrobenthos, plankton dan organisme kecil lainnya, karena tidak tersedianya oksigen dalam air yang dibutuh kan oleh ikan dan organisme kecil lainnya. Telaga Pengilon memiliki kadar DO 6, masih cocok untuk tempat hidup ikan dan organisme kecil karena masih tersedianya oksigen yang cukup. Oksigen terlarut dalam air digunakan sebagai indikator suatu organisme untuk bernafas atau oksigen (Asdak, 2007). 
4.2.2 Temperatur
Hasil dari pengukuran Temperatur dapat dilihat dari grafi dibawah ini :
Gambar 2. Grafik Temperatur Perairan
Dari grafik diatas dapat dilihat bahwa Telaga Warna memiki temperatur 22oC, Hal tersebut menekankan bahwa Telaga Warna Sangat kurang cocok untuk hidup ikan, makrobenthos, plankton dan organisme kecil lainnya, karena ikan biasanya lebih mampu mempertahankan keberlangsungan hidupnya pada perairan yang cukup hangat. Substrat dasar dari Telaga Dieng merupakan substrat yang berlumpur dan mengandung pasir. Menurut Effendi (2003), algae dari filum Chlorophyta dan diatom  akan tumbuh dengan baik pada kisaran suhu berturut-turut 30 ± 35C dan ikan akan tumbuh dengan baik pada kisaran suhu 20 ± 30 C.





4.2.3. Konduktivitas
Hasil dari pengukuran Konduktivitas dapat dilihat dari grafi dibawah ini :
Gambar 3. Grafik konduktivitas
Dari grafik diatas dapat dilihat bahwa nilai konduktivitas pada Telaga Warna sebesar 2300µmhos, nilai tersebut telah melewati batas maksimum konduktivitas yaitu 400µmhos. Hal ini kemungkinan merupakan faktor yang mempengaruhi timbulnya warna pada telaga di dieng. Dilihat dari kondisi yang sedemikian, maka untuk daerah Telaga di Dieng memiliki potensi yang kecil untuk dilakukannya budidaya. Konduktivitas berkaitan dengan mineral yang terkandung dalam perairan yang menyebabkan kekeruhan pada perairan. Pada telaga pengilon nilai konduktivitasnya sebesar 169,1µmhos, nilai konduktivitas tersebut menunjukan bahwa telaga pengilon masih cukup berpotensi untuk dilakukannya budidaya. Faktor Konduktivitas merupakan jumlah total ion terlarut dalam perairan(Ewuise,1990).





4.2.4. Derajat Keasaman (pH)
Hasil dari pengukuran pH dapat dilihat dari grafi dibawah ini :
Gambar 4. Grafik Derajat Keasaman (pH)

Berdasarkan grafik diatas dapat dilihat bahwa Telaga Warna memiliki derajat keasaman air (pH) yaitu 3, yang berarti di perairan tersebut memiliki sifat asam dan tidak aman bagi biota perairan. Menurut Susanto (2009) estándar baku pH adalah 6 – 9. Hal ini juga membuktikan bahwa di Telaga tersebut tidak banyak dijumpai spesies ikan. Berdasarkan batas toleransi biota perairan tidak dapat bertahan pada kondisi pH yang asam. Nilai pH yang ditoleransi ikan nila berkisar antara 5 hingga 11,  batasan pH yang cocok untuk kegiatan budidaya adalah berkisar 7,2 sampai 8,5 (levianto, 1988). Seperti halnya dengan Telaga Pengilon yang memiliki derajat keasaman air (pH) yaitu 7, yang menunjukan bahwa perairan tersebut masih dalam kondisi ideal, dan dapat dijadikan tempat pembudidayaan ikan. Beberapa faktor yang memengaruhi pH perairan diantaranya aktivitas fotosintesis, suhu, dan terdapatnya anion dan kation. (Kottelat,1993).



V.        KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil yang diperoleh dapat disimpulkan bahwa:
1. Dilihat dari fisikokimia (DO atau oksigen terlarut, temperatur, konduktivitas, pH) Telaga Warna tidak layak untuk tempat hidup ikan atau Makrobenthos, plankton dan organisme kecil lainnya yang terdapat di Telaga Pengilon sebagai pakan alami atau rantai makanan dari ikan.
2. Telaga Warna Dieng mempunyai peluang kecil untuk mengembangkan usaha budidaya perikanan namun di Telaga Pengilon masih memungkinkan untuk tempat budidaya.
5.2 Saran
Semoga praktikum ini dapat ditunjang dengan pemberian materi yang jelas agar praktikum dapat menambah pengetahuan.











DAFTAR PUSTAKA
Asdak, 2007. Hidrologi Dan Pengelolaan Daerah Aliran Sungai. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.
Ewusie, J.K.  1990.  Pengantar  Ekologi  Tropika (terjemahan). ITB Bandung: Bandung.
Kottelat, M.; A.J. Whitten; S.N. Kartikasari & S. Wirjoatmodjo. 1993. Freshwater Fishes of Western Indonesia and Sulawesi. Periplus, Jakarta.
Hawkins, H.A.1979. Invertebrates an Indikator Of River Water Quality. In James, A. And L. Erison, ED. Biology Indikator Of Water Quality. Jon Willey Sons, Toronto.
Odum, E.P.1996. Dasar-Dasar Ekologi. Diterjemahkan oleh Thahmosamingan. Yogyakarta: Gadjah Mada Press.
Susanto, Byna, Krisdianto, Hasrul Satria Nur. 2009. Kajian Kualitas Air Sungai yang Melewati Kecamatan Gambut dan Aluh aluh Kalimantan Selatan. Bioscientiae. Vol:6. No:1. Hal:40-50.
Daelami .2001. Studi kualitas sungai meggunakan makrozoobentos sebagai indicator pencemaran lingkungan perairan. Tesis S2. Program pasca sarjana institut pertanian Bogor.
Hutagalung RA. 2010. Ekologi Dasar. Jakarta. Hlm. 13-15.
Microbial and Meiofaunal Populations in Sediments of Natural Coastal Hydrocarbon Seep. Journal of Marine Science.
Effendi, H. 2003. Telaan Kualitas Air: Bagi Pengelolaan Sumber Daya dan Lingkungan Perairan. Kanisus. Yogyakarta.
Koesbiono.1979. Ekologi Perairan. Bogor. IPB.
Karwani, 2006. Manajemen Kualitas Air. Politehnik vedca. Cianjur.
Sary, 2006. Bahan Kuliah Manajemen Kualitas Air. Politehnik vedca. Cianjur.
Syahri, Muhammad.2008. Ekosistem Perairan. Tiga Serangkai: Surakarta.
Nybakkenn.1998. Biologi Suatu Pendekatan Ekologi. Jakarta : Gramedia.
Siregar, A. S. Toni, P. S. Setijanto. 2001. Studi Ekologi Fauna Benthik (Macrobrachidium) di Sungai Banjaran, Pelus dan Logawa, Kabupaten Banyumas. Biosfera vol. 18 No 1.
Barus, T. A. 2002. Pengantar Limnologi. Universitas Sumatra Utara. Medan.
Effendi,2003.Telaah Kualitas Air.Kanisius.Yogyakarta.
Salmin. 2000. Kadar Oksigen Terlarut di Perairan Sungai Dadap, Goba, Muara Karang dan Teluk Banten. Dalam : Foraminifera Sebagai Bioindikator Pencemaran, Hasil Studi di Perairan Estuarin Sungai Dadap, Tangerang (Djoko P. Praseno, Rositasari dan S. Hadi Riyono, eds.) P3O - LIPI hal 42 – 46.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar